TEORI TEORI TENTANG PENGETAHUAN
TEORI TEORI TENTANG PENGETAHUAN
A. pengetahuan dan Keyakinan
1. Hubungan antara Pengetahuan dan Keyakinan
Keyakinan
Pengetahuan
Objek yang disadari sebagai ada itu, tidak perlu harus ada sebagaimana adanya.
Objek yang disadari itu memang ada sebagaimana adanya.
Bisa keliru.
Tidak bisa keliru / selalu mengandung kebenaran.
Apa yang disadari sebagai ada, bisa saja tidak ada dalam kenyataannya.
Jika suatu pengetahuan terbukti salah atau keliru, tidak bisa lagi dianggap sebagai pengetahuan.
Harus ditunjang oleh bukti-bukti berupa acuan fakta, saksi, memori, catatan historis, dsb.
Dalam ilmu pengetahuan, pengetahuan dirumuskan menjadi proposisi.
Proposisi / hipotesis : pernyataan yang mengungkapkan apa yang diketahui dan / atau diyakini sebagai benar yang perlu dibuktikan lebih lanjut.
Pendapat :
a. Subjek yang bersangkutan harus sadar bahwa dia tahu.
b. Tidak perlu ada kesadaran bahwa subjek itu tahu.
2. Macam-Macam Pengetahuan Menurut Polanya
Tahu bahwa
Tahu bagaimana
Tahu akan / mengenai
Tahu mengapa
Tentang informasi tertentu.
Bagaimana melakukan suatu keterampilan, keahlian, kemahiran teknis seperti manajemen, teknik, organisasi, komputer.
Sesuatu yang sangat spesifik menyangkut pengalaman / pengenalan pribadi.
berkaitan dengan penjelasan.
Tahu bahwa p, dan bahwa pmemang benar.
Dikenal sebagaiknow-how. Berkaitan dengan
Biasanya bersifat singular / hanya berkaitan dengan objek khusus.
Lebih kritis. Merupakan pengetahuan paling tinggi dan mendalam, serta ilmiah.
Disebut juga pengetahuan teoretis, ilmiah.
Disebut juga pengetahuan praktis.
Disebut juga pengetahuan berdasarkan pengenalan.
Perasaan Menurut Plato dan Aristoteles
a. Perasaan terkejut
b. Perasaan ingin tahu
c. Perasaan kagum
Hubungan :
Perasaan terkejut ketika terjadi sesuatu yang tak terduga, sehingga terdorong untuk mengetahui mengapa hal itu terjadi. Setelah mendapatkan penjelasan, pada akhirnya ia akan merasa kagum pada sesuatu yang tak terduga tadi.
3. Hubungan antara Empat Macam Pengetahuan
a. Antara ‘tahu bahwa’ dan ‘tahu bagaimana’
‘tahu bagaimana’ hanya merupakan penerapan praktis dari apa yang telah diketahui pada tingkat ‘tahu bahwa’.
b. Antara ‘tahu bahwa’ dan ‘tahu akan’
Michael Polanyi mengatakan bahwa supaya kita bisa ‘tahu bahwa sesuatu sebagaimana adanya’, kita harus punya pengalaman pribadi secara langsung.
c. Antara ‘tahu bagaimana’ dan ‘tahu akan’
Dengan mengetahui sesuatu secara pribadi, seseorang pada akhirnya semakin tahu bagaimana bertindak secara tepat.
d. Antara ‘tahu mengapa’ dan ketiga jenis pengetahuan lainnya
- Untuk sampai pada pengetahuan yang mendalam dan akurat, kita tidak hanya berhenti pada ‘tahu bagaimana’, melainkan kita perlu melangkah lebih jauh untuk mengetahui mengapa sesuatu terjadi.
- Untuk bisa tahu bagaimana melakukan sesuatu, dalam banyak kasus kita perlu mengetahui mengapa sesuatu terjadi.
- Untuk bisa mempunyai ‘pengetahuan mengapa’ sesuatu terjadi, kita perlu mempunyai pengenalan pribadi, yaitu tahu secara mendalam tentang hal itu.
TAHU AKAN
(pengetahuan langsung melalui pengenalan pribadi)
TAHU BAHWA
(masih bersifat umum)
TAHU MENGAPA
(Refleksi, abstraksi, penjelasan)
TAHU BAGAIMANA
(pemecahan, penerapan, tindakan)
4. Skeptisisme
Sikap dasar : bahwa kita tidak pernah tahu tentang apapun. Meragukan kemungkinan bahwa manusia bisa mengetahui bahwa manusia benar-benar tahu tentang sesuatu.
Sejarah :
Sejak zaman Yunani Kuno pada kelompok filsuf yang dikenal sebagai kaum Sofis. Kaum Sofis meragukan kemungkinan pengetahuan akan alam karena menurut mereka , manusia adalah ukuran dari segala-galanya.
Georgias :
a. Tidak ada yang benar-benar ada.
b. Kalaupun ada sesuatu yang ada di dunia ini, kita tidak bisa mengetahuinya.
c. Kalaupun kita bisa mengetahuinya, kita tidak bisa mengkomunikasikan apa yang kita ketahui itu kepada orang lain
B. SUMBER PENGETAHUAN RASIONALISME DANEMPIRISME
1. RASIONALISME
Secara etimologis Rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalism. Kata ini berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti “akal”. Menurut A.R. Lacey bahwa berdasarkan akar katanya Rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal. Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki.
Sementara itu, secara terminologis aliran ini dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan. Ia menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi. Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal yang memenuhi syarat semua pengetahuan ilmiah. Pengalaman hanya dipakai untuk mempertegas pengetahuan yang diperoleh akal. Akal tidak memerlukan pengalaman. Akal dapat menurunkan kebenaran dari dirinya sendiri, yaitu atas dasar asas-asas pertama yang pasti.
Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran. Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia, melihat tambahan ilmu pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu alam. Maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikut orang-orang yang terpelajar Makin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang hidup dan dunia. Hal ini menjadi menampak lagi pada bagian kedua abad ke XVII dan lebih lagi selama abad XVIII antara lain karena pandangan baru terhadap dunia yang diberikan oleh Isaac Newton (1643 -1727). Berkat sarjana Fisika Inggeris ini yaitu menurutnya Fisika itu terdiri dari bagian-bagian kecil (atom) yang berhubungan satu sama lain menurut hukum sebab akibat. Semua gejala alam harus diterangkan menurut jalan mekanis ini. Harus diakui bahwa Newton sendiri memiliki suatu keinsyafan yang mendalam tentang batas akal budi dalam mengejar kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Berdasarkan kepercayaan yang makin kuat akan kekuasaan akal budi lama kelamaan orang-orang abad itu berpandangan dalam kegelapan. Baru dalam abad mereka menaikkan obor terang yang menciptakan manusia dan masyarakat modern yang telah dirindukan, karena kepercayaan itu pada abad XVIII disebut juga zaman Aufklarung (pencerahan).
Dalam perkembangannya Rasionalisme diusung oleh banyak tokoh, masing-masing dengan ajaran-ajaran yang khas, namun tetap dalam satu koridor yang sama. Tokoh-tokoh rasionalisme pada abad XVII adalah: Rene Descartes (1596 -1650), Nicholas Malerbranche (1638 -1775), Baruch De Spinoza (1632 -1677 M), Gottfried Wilhelm von Leibniz (1946-1716), Christian Wolff (1679 -1754), Blaise Pascal (1623 -1662 M)
Sedangkan pada abad XVIII dikenal nama-nama seperti Voltaire, Diderot dan D’Alembert.
1.2 EMPIRISME
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empeiria yang berarti pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Akan tetapi tidak berarti bahwa rasionalisme ditolak sama sekali. Dapat dikatakan bahwa rasionalisme dipergunakan dalam kerangka empirisme, atau rasionalisme dilihat dalam bingkai empirisme .
John Locke (1632-1704) sebagai tokoh paling awal dalam urutan empirisme Inggris, merupakan sosok yang paling konservatif Ia merasa menerima keraguan sementara yang diajarkan oleh Descartes sehingga ia menolak anggapan Descartes yang menyatakan keunggulan dari “yang dipahami” adalah “yang dirasa”. Ia hanya menerima pemikiran matematis yang pasti dan penarikan dengan cara metode induksi.
Secara menarik Locke membandingkan budi manusia pada saat lahir dengan tabula rasa, yaitu sebuah papan kosong yang belum tertulis apapun, yang artinya segala sesuatu yang ada dalam pikiran berasal dari pengalaman inderawi, tidak dari akal budi. Otak itu seperti sehelai kertas yang masih putih dan baru melalui pengelaman inderawi itu sehelai kertas itu diisi. Dengan ini beliau tidak hanya mau menyingkirkan gagasan mengenai “ide bawaan”, tetapi juga untuk mempersiapkan penjelasan bagaimana arti disusun oleh kerja keras data sensoris (indrawi). Locke mengatakan bahwa tidak ada ide yang diturunkan, sehingga dia menolak innate idea atau ide bawaan. Menurut Locke semua ide diperoleh dari pengalaman, dan terdiri atas dua macam, yaitu:
1. Ide ide Sensasi, yang diperoleh dari pancaindra seperti, melihat, mendengar, dan lain-lain.
2. Ide-ide Refleksi yang diperoleh dari berbagai kegiatan budi seperti berpikir, percaya, dan sebagainya.
Jadi menurut Locke, apa yang kita ketahui adalah “ide”.
Kebanyakan orang mengatakan bahwa mereka sadar akan benda-benda. Tetapi menurut Locke objek kesadaran adalah ide. Ide adalah “objek akal seawktu seseorang berpikir, saya telah menggunakannya utnuk menyatakan apa saja yang dimaksud dengan fantasnya, maksud species, atau apa saja yang digunakan budi untuk berpikir….”(Sterling Lamperch 1928 dalam Hardono Hadi 1994).Locke juga mengatakan bahwa ide adalah “objek langsung dari persepsi” (Sterling Lamperch 1928 dalam Hardono Hadi 1994).
1.3. PERSAMAAN RASIONALISME DENGAN EMPIRISME
Berawal pada pembahasan mengenai perbedaan masing-masing ranah. Rasionalisme berasal dari pencernaan rasio, akal budi, dan wahyu dari Tuhan (a priori), sementara empirisme lebih menekankan pada pengalaman indrawi (a posteriori), baik lahiriah (sensation) maupun batiniah (reflection). Untuk metode yang digunakan, rasionalisme adalah kesangsian, dan empirisme metode observasi, dengan instrumen-instrumen pengetahuan diantaranya. Belum lagi soal metode analisis pengujian yang dipakai keduanya. Rasionalsime dengan matematika analisis, dan empirisme dengan ilmu-ilmu alamnya.
> Sama-sama menggunakan rasio
Meskipun empirisme ngotot mempertahankan idenya bahwa pengalamanlah yang menjadi dasar dari segala pengetahuan, namun tak dapat dipungkiri bahwa dalam proses penalarannya, rasio pasti digunakan.
> Memiliki tujuan yang sama
Tujuan dari semua tradisi pemikiran filsafat adalah sama, yaitu mencapai hakikat kebenaran dan pengetahuan.
> Menggunakan metode untuk analisis.
Dua paham ini tentu saja menggunakan metode khusus dalam analisisnya, baik untuk mencapai pengetahuan itu sendiri, maupun dalam proses analisis pengujiannya.
> Keduanya mengusung perubahan
Awal kemunculan rasionalisme didasari oleh merebaknya dogma-dogma dan doktrin-doktrin agama (waktu itu gereja) terhadap filsafat. Maka Rene Descartes, tokoh awal tradisi pemikiran ini, mengusung proyek perubahannya dengan mengedepankan akal dan rasio dalam menemukan hakikat pengetahuan. Begitu juga empirisme. Setelah menyebarnya paham rasionalisme, empirisme mengajukan diri dengan mengatakan bahwa ia datang untuk memurnikan filsafat dan perbaikan terhadap paham sebelumnya.
> Kebenaran yang dihasilkan sama-sama menimbulkan korban
Rasionalisme, yang menekankan pada metode clear and distinct (jelas dan berbeda) untuk kebenaran yang diusungnya, pada akhirnya pasti akan menimbulkan korban. Mengapa? Saat kebenaran yang diyakini jelas dan berbeda itu ditemukan, maka semua hal lain akan dianggap salah. Sebagai contoh paradigma rasionalsime: perempuan dikatakan cantik bila memenuhi kriteria-kriteria yang telah disepakati. Maka jika tidak sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan, menurut rasionalisme, jelas dikatakan tidak cantik alias salah. Tidak ada kebenaran kedua bagi rasionalisme. Hal ini jelas memarginalkan yang lain, dan menjadikannya korban.
Sedangkan empirisme, kebenaran yang menurutnya berdasar pada moral juga sangat memarginalkan lawannya. Semua yang dianggap tak bermoral, atau katakanlah, bermoral buruk, maka akan disingkirkan, dan diasingkan. Hal ini memicu terbentuknya suatu pemerintahan egaliter yang diktator dan semena-mena, terutama terhadap kelompok yang dianggap tak memenuhi kriteria moral yang disepakati.
Jelaslah bahwa keduanya menimbulkan korban, dan inilah kritik mendasar akan keduanya, yang sekaligus merupakan persamaan bagi kedua paham tersebut.
2.4. PERBEDAAN RASIONALISME DENGAN EMPIRISME
Setelah dipaparkan diatas, tidak mengherankan bila rasionalisme dan emperisme masing-masing mempunyai pendirian yang sangat berlainan tentang sifat pengenalan manusiawi. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari rasio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur saja. Sebaliknya, empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman, sehingga pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Seperti kita lihat pada rasionalisme di daratan Eropa, pada empirisme Inggrispun masalah subtansi ramai di bicarakan.
perbedaan antara Rasionalisme dan Empirisme yakni bahwa Rasionalisme berasal dari pencernaan rasio, akal budi, dan wahyu dari Tuhan (a priori), sementara empirisme lebih menekankan pada pengalaman indrawi (a posteriori), baik lahiriah (sensation) maupun batiniah (reflection). Untuk metode yang digunakan, rasionalisme adalah kesangsian, dan empirisme metode observasi, dengan instrumen-instrumen pengetahuan diantaranya. Belum lagi soal metode analisis pengujian yang dipakai keduanya. Rasionalsime dengan matematika analisis, dan empirisme dengan ilmu-ilmu alamnya.
C. KEBENARAN ILMIAH
Berbicara tentang kebenaran ilmiah, tentunya tidak lepas dari pemahaman tentang ilmu. Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima – ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui, sementara itu secara istilah ilmu diartikan sebagai idroku syai bi haqiqotih (mengetahui sesuatu secara hakiki). Dalam bahasa Inggris, ilmu biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata science (berasal dari bahasa latin dari kata scio, scire yang berarti tahu) umumnya diartikan ilmu tapi sering juga diartikan dengan ilmu pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu pada makna yang sama. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu .
Menurut The Liang Gie secara lebih khusus menyebutkan ciri-ciri ilmu sebagai berikut :
a. Empiris (berdasarkan pengamatan dan percobaan)
b. Sistematis (tersusun secara logis serta mempunyai hubungan saling bergantung dan teratur)
c. Objektif (terbebas dari persangkaan dan kesukaan pribadi)
d. Analitis (menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian yang terinci)
e. Verifikatif (dapat diperiksa kebenarannya)
Sementara itu Beerling menyebutkan ciri ilmu (pengetahuan ilmiah) adalah :
a. Mempunyai dasar pembenaran
b. Bersifat sistematik
c. Bersifat intersubjektif
Setelah kita memahami tentang ilmu itu sendiri, kita akan lebih mudah dalam menafsirkan apa itu kebenaran ilmiah. Yaitu, kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan. Pada saat pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status ontologis objek dan sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan tejadi) yang disesuaikan dengan metodologisnya. Hal yang penting dan perlu mendapat perhatian dalam hal kebenaran ilmiah yaitu bahwa kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau konvensi dari para ilmuwan pada bidangnya masing-masing.
Kebenaran ditemukan dalam pernyataan-pertanyaan yang sah, dalam ketidak-tersembunyian. Kebenaran adalah kesatuan dari pengetahuan dengan yag diketahui, kesatuan subjek dengan objek, dan kesatuan kehendak dan tindakan. Kebenaran sering dianggap sebagai sesuatu yang harus “ditemukan” atau direbut melalui pembedaan antara kebenaran dengan ketidakbenaran. Dan kebenaran ilmiah paling tidak memiliki tiga sifat dasar, yakni:
a. Struktur yang rasional-logis. Kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional, maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik), dapat memahami kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal. Dalam memahami pernyataan di depan, perlu membedakan sifat rasional (rationality) dan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku untuk kebenaran ilmiah, sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu di luar lingkup pengetahuan. Sebagai contoh: tindakan marah dan menangis atau semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin tidak rasional.
b. Isi empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada, bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah, berkaitan dengan kenyataan empiris di alam ini. Hal ini tidak berarti bahwa dalam kebenaran ilmiah, spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun suatu pernyataan dianggap benar secara logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara empiris.
c. Dapat diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis, berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya, jika suatu “pernyataan benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris, maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia. Berguna, berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya.
Adapun tujuan manusia mempunyai pengetahuan adalah:
a. Memenuhi kebutuhan untuk kelangsungan hidup
b. Mengembangkan arti kehidupan
c. Mempertahankan kehidupan dan kemanusiaan itu sendiri.
d. Mencapai tujuan hidup
Ada dua teori yang digunakan untuk mengetahui hakekat Pengetahuan:
a. Realisme, teori ini mempunyai pandangan realistis terhadap alam. Pengetahuan adalah gambaran yang sebenarnya dari apa yang ada dalam alam nyata.
b. Idealisme, teori ini menerangkan bahwa pengetahuan adalah proses-proses mental/ psikologis yang bersifat subjektif. Pengetahuan merupakan gambaran subjektif tentang sesuatu yang ada dalam alam menurut pendapat atau penglihatan orang yang mengalami dan mengetahuinya. Premis pokok adalah jiwa yang mempunyai kedudukan utama dalam alam semesta. Sebenarnya realisme dan idealisme mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu.
Ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain:
a. Empirisme, menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman (empereikos = pengalaman). Dalam hal ini harus ada 3 hal, yaitu yang mengetahui (subjek), yang diketahui (objek) dan cara mengetahui (pengalaman). Tokoh yang terkenal: John Locke (1632 –1704), George Barkeley (1685 -1753) dan David Hume.
b. Rasionalisme, aliran ini menyatakan bahwa akal (reason) merupakan dasar kepastian dan kebenaran pengetahuan, walaupun belum didukung oleh fakta empiris. Tokohnya adalah Rene Descartes (1596 –1650, Baruch Spinoza (1632 –1677) dan Gottried Leibniz (1646 –1716).
c. Intuisi. Dengan intuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui proses pernalaran tertentu. Henry Bergson menganggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi bersifat personal.
d. Wahyu adalah pengetahuan yang bersumber dari Tuhan melalui hambanya yang terpilih untuk menyampaikannya (Nabi dan Rosul). Melalui wahyu atau agama, manusia diajarkan tentang sejumlah pengetahuan baik yang terjangkau ataupun tidak terjangkau oleh manusia.
Diposkan oleh winda lestari di 19.31 Tidak ada komentar:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar