Selasa, 18 November 2014

c)      Metode Induksi
Induksi didefinisikan sebagai proses pengambilan kesimpulan (atau pembentukan hipotesis) yang didasarkan pada satu atau dua fakta atau bukti-bukti. Pendekatan induksi sangat berbeda dengan deduksi. Tidak ada hubungan yang kuat antara alasan dan konklusi. Proses pembentukan hipotesis dan pengambilan kesimpulan berdasarkan data yang diobservasi dan dikumpulkan terlebih dahulu disebut proses induksi (inductionprocess) dan metodenya disebut metode induktif (inductive method) dan penelitiannya disebut penellitian induktif (inductive research). Dengan demikian pendekatan induksi mengumpulkan data terlebih dahulu baru hipotesis dibuat jika diinginkan atau konklusi langsung diambil jika hipotesis tidak digunakan. Proses induksi selalu digunakan pada penelitian dengan pendekatan kualitatif (naturalis). Penalaran induksi merupakan proses berpikir yang berdasarkan kesimpulan umum pada kondisi khusus. Kesimpulan menjelaskan fakta sedangkan faktanya mendukung kesimpulan. Induksi adalah pengambilan kesimpulan secara umum dengan berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari fakta-fakta khusus.  Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.

  d)     Hukum dan Teori Ilmiah
 Ilmu pengetahuan sesungguhnya mengkaji atau meneliti hubungan sebab akibat  sebagai suatu hubungan yang bersifat pasti karena kalau suatu peristiwa terjadi yang lain dengan sendirinya akan menyusul atau pasti telah terjadi sebelumnya. Inilah hubungan yang dalam ilmu pengetahuan disebut sebagai hukum. Kalau dikatakan bahwa ilmu pengetahuan mengkaji hubungan diantara berbagai peristiwa, atau bahwa ilmu pengetahuan mengkaji hubungan sebab-akibat antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain, itu tidak lain berarti ilmu pengetahuan mengkaji hukum ilmiah. Hukum ilmiah atau hubungan sebab-akibat itulah yang menjadi objek material utama dari ilmu pengetahuan.
     Tujuan utama dari ilmu pengetahuan adalah untuk menemukan hukum ilmiah yang bisa menjelaskan suatu peristiwa yang menjadi sebuah masalah. Hukum ilmiah merupakan hasil akhir yang bersifat sementara dari suatu proses kegiatan ilmiah. Hukum lalu berguna sebagai problem solving. Ada masalah dalam hidup manusia atau dalam alam ini. Masalah tersebut ditemukan sebabnya, lalu bisa dicari pemecahan atau jalan keluar, justru dengan memanfaatkan hubungan sebab-akibat atau hukum tadi. Hubungan sebab-akibat atau hukum ilmiah adalah hubungan ini sering dipahami sebagai hubungan susul-menyusul dianggap sebagai mempunyai hubungan sebab-akibat. Dua peristiwa atau lebih hanya bisa dianggap mempunyai hubungan sebab-akibat, yang menjadi sebuah hukum ilmiah, kalau keduanya terjadi secara susul-menyusul dan punya kaitan langsung tanpa kecuali. Contoh, besi memuai (peristiwa B) dan besi dipanaskan (peristiwa A). Hubungan antara peristiwa A dan B adalah hubungan sebab-akibat dan dengan demikian adalah sebuah hukum ilmiah. Karena, keduanya terjadi secara susul-menyusul tanpa terkecuali. Artinya, setiap kali peristiwa A terjadi, peristiwa B pasti akan terjadi dengan sendirinya. Tidak semua peristiwa yang terjadi secara susul-menyusul adalah peristiwa sebab-akibat atau mengungkapkan suatu hukum ilmiah, contohnya kelahiran dan kematian. Keduanya terjadi secara susul-meyusul, tetapi kematian bukan disebabkan oleh kelahiran.
 Metode Ilmu Pengetahuan
a)      Metode ilmiah
Metode ilmiah atau proses ilmiah (bahasa Inggris: scientific method) merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah. Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut: Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran), Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran), Prediksi (deduksi logis dari hipotesis), Eksperimen (pengujian). Metode ilmiah merupakan proses berpikir untuk memecahkan masalah. Metode ilmiah berangkat dari suatu permasalahan yang perlu dicari jawaban atau pemecahannya. Proses berpikir ilmiah dalam metode ilmiah tidak berangkat dari sebuah asumsi, atau simpulan, bukan pula berdasarkan  data atau fakta khusus. Proses berpikir untuk memecahkan masalah lebih berdasar kepada masalah nyata. Untuk memulai suatu metode ilmiah, maka dengan demikian pertama-tama harus dirumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dan sedang dicari pemecahannya. Rumusan permasalahan ini akan menuntun proses selanjutnya. Pada Metode Ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis. Metode ilmiah didasarkan pada data empiris. Pada metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara terkontrol. Langkah-Langkah Metode Ilmiah. Karena metode ilmiah dilakukan secara sistematis dan berencana, maka terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan secara urut dalam pelaksanaannya. Setiap langkah atau tahapan dilaksanakan secara terkontrol dan terjaga. Adapun langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut:
ü  Merumuskan masalah.
ü  Merumuskan hipotesis.
ü  Mengumpulkan data.
ü  Menguji hipotesis.
ü  Merumuskan kesimpulan.

b)     Metode Abduksi dan deduksi
  Metode abduksi adalah semua proses yang terdiri dari mencari dan merumuskan hipotesis terjadi dalam pemikiran ilmuwan dan berkisar seputar hipotesis dan proses penyimpulan.
Metode Berpikir Deduksi                                                                                         
 Deduksi merupakan proses pengambilan kesimpulan sebagai akibat dari alasan-alasan yang diajukan berdasarkan hasil analisis data. Proses pengambilan kesimpulan dengan cara deduksi didasari oleh alasan-alasan yang benar dan valid. Proses pengambilan kesimpulan berdasarkan alasan-alasan yang valid atau dengan menguji hipotesis dengan menggunakan data empiris disebut proses deduksi (deduction) dan metodenya disebut metode deduktif (deductive method) dan penelitiannya disebut penelitian deduktif (deductive research). Proses deduksi selalu digunakan pada penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif (scientific). Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum, Deduksi adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
 Teori-teori kebenaran

D. Masalah Kepastian dan Falibilisme Moderat
                                            
  1.      Masalah Kepastian Kebenaran Ilmiah                                                                    
    Dalam empat macam kebenaran, melahirkan 2 pandangan yang berbeda, yaitu pandangan kaum rasionalis yang menekankan kebenaran logis-rasional, dan pandangan kaum empirisis yang menekankan kebenaran empiris. Kebenaran kaum rasionalis bersifat sementara, terlepas dari seberapa tinggi tingkat kepastiannya karena kebenaran sebagai keteguhan dari suatu pernyataan atau kesimpulan sangat tergantung pada kebenaran teori atau pernyataan lain. padahal, teori atau pernyataan lain sangat mungkin salah. Sedangkan kaum empirisis tidak pernah berpretensi untuk menghasilkan suatu pengetahuan yang pasti benar tentang alam. Bagi mereka, ilmu pengetahuan tidak memiliki ambisi seperti iman dalam agama. Ilmu pengetahuan tidak akan pernah memberikan suatu formulasi final dan absolut tentang seluruh universum = falibilisme.Falibilisme beranggapan bahwa kendati pengetahuan ilmiah merupakan pengetahuan yang paling baik yang dapat kita miliki.                   
 2.      Falibilisme dan Metode Ilmu Pengetahuan                                                    
  Falibilisme ilmu pengetahuan berasal dari dua sumber, yaitu sebagai konsekuensi dari metode ilmu pengetahuan, dan dari objek ilmu pengetahuan yaitu universum alam. Indikasi metodologis sebagai alasan dari falibilisme moderat : Peneliti sendiri tidak pernah merasa pasti dengan apa yang dicapainya sendiri,  Fokus utama dari kegiatan penelitian ilmiah adalah verifikasi dan hipotesis. Karena metode induksi. Setiap hipotesis pada dasarnya tidak pasti.                                                                         
     3.      Falibilisme dan Objek Ilmu Pengetahuan                                                   
  a.      Realitas objek                                                                                                     
  Nyata berarti lepas dari pikiran manusia, Realitas dapat dikatakan real jika memang dapat dikenal, dan Realitas yang dibicarakan ilmu pengetahuan adalah realitas publik, realitas yang menjadi perhatian banyak orang. Yang real berarti yang memiliki dimensi sosial.                                                                                                         
  b.      Evolusi objek pengetahuan ilmiah                                                                        
  Objek ilmu pengetahuan selalu berubah-ubah dan mengalami perkembangan. Aspek :  
Objek pengetahuan ilmiah selalu berubah sehingga pengetahuan yang kita capai, sekalipun sangat akurat, harus ditinjau kembali, dan Objek dari pengetahuan kita selalu berkembang kepada regularitas.                                 
                                                    
 E. Ilmu teknologi dan kebudayaan
                                                                           
 Teknologi adalah komponen penting dari kebudayaan, karena ia memiliki peranan yang tidak ringan dalam proses kebudayaan, terutama dalam kaitannya dengan fenomena globalisasi yang tidak dapat dibendung bahkan oleh institusi manapun. Berbeda dengan peranan ilmu terhadap kebudayaan, teknologi lebih menekankan aspek pembangunan unsur material kebudayaan manusia. Dalam konteks ini teknologi juga merupakan bagian dari realitas obyektif yang pada akhirnya memiliki peranan yang besar terhadap komponen kebudayaan lain, dan terhadap manusia sendiri. Dalam keterkaitannya dengan hal di atas, stereotif yang muncul dalam pikiran masyarakat dewasa ini lebih memojokkan posisi teknologi, yang dianggap sebagai penyebab utama dari goyahnya dan terkoyak-koyaknya sistem kebudayaan. Pandangan tersebut memang tidak sepenuhnya salah. Hal ini muncul lantaran adanya inkonsistensi komunikasi antar kebudayaan yang selalu mengalami pergeseran-pergeseran. Lagi pula produk suatu teknologi, dengan perangkat lunak dan sistem nilainya, misalnya, sangat mudah melintasi secara akseleratif, dan untuk kemudian memasuki wilayah sistem-sistem kebudayaan. Akselesari perlintasan sistem nilai teknologi kedalam demarkasi kebudayaan ini dirasakan semakin sulit dikendalikan dan sering melahirkan gejala-gejala yang tidak dikehendaki manusia sendiri. Pergulatan entitas teknologi dan kebudayaan ini kemudian sering menimbulkan masalah bagi kehidupan manusia. Di antaranya adalah yang sering dikenal dengan istilah kesenjangan teknologi. Jelas bahwa masalah ini muncul lantaran munculnya perbedaan yang bersifat mendasar antara teknologi dan kebudayaan itu sendiri. Bahkan, secara sosiologis, sifat teknologi memunculkan ketergantungan budaya dan budaya ketergantungan. Selain itu juga teknologi mempengaruhi budaya masyarakat yang mengarah pada sentralistik kebudayaan, kecenderungan untuk melihat realitas secara dikotomis dan menimbulkan suatu pandangan antroposentris yang marginalis. Mencermati pemaparan yang demikian, hal pokok yang dapat diungkapkan berkaitan dengan hubungan teknologi dan kebudayaan ini bahwa hubungan itu dapat dilihat melalui perspektif teknologi maupun kebudayaan. Sudut pandang yang pertama lebih menutut kearifan manusia untuk melihat bahwa pilihan-pilihan yang disediakan teknologi mengandung konsekuensi masing-masing. Disamping pula, potensi manusia dalam memenuhi hasrat yang tidak terbatas sesungguhnya memiliki dimensi ganda yang bersifat dialektis: mengembangkan potensi seluas-luasnya serta kemampuan untuk mengendalikannya. Sementara perspektif yang kemudian lebih mengedepankan adanya komunikasi antar sistem budaya. Baik itu melalui proses-proses eksternalisasi bagi pentransfer teknologi, ataupun proses-proses inkulturasi, akulturasi bahkan invasi kebudayaan bagi pihak yang mendapatkan transfer teknologi itu. Ilmu pengetahuan, secara fungsional, merupakan sarana untuk membebaskan dan menjinakkan teknologi dengan melalui upaya meningkatkan kebudayaan. Tentu saja hal ini tidak begitu saja dapat dibaca secara mudah. Karena sesungguhnya persoalan hubungan antara ilmu teknologi dan kebudayaan merupakan realitas yang komplek. Dalam artian bahwa mengabaikan satu saja dari realitas tersebut ketika memperbincangkan salah satu di antaranya, justru akan menghasilkan pandangan yang timpang.                       
                                                                                      
     F. Etika Keilmuwan   
                                                                                                 
    Istilah etika keilmuwan mengantarkan kita pada kontemplasi mendalam, baik mengenai hakekat, proses pembentukan, lembaga yang memproduksi ilmu lingkungan yang kondusif dalam pengembangan ilmu, maupun moralitas dalam memperoleh dan mendayagunakan ilmu tersebut. Etika keilmuan berasal dari dua kata yaitu etika dan kelimuan (ilmu). Kata pertama etika berasal dari bahasa Yunani Kuno: “ethikos”, berarti “timbul dari kebiasaan”  Etika Keilmuan | 12Kamus Besar Bahasa Indonesia etika adalah ilmu tentang apa yg baik dan apa yg buruk dantentang hak dan kewajiban moral (akhlak).
 Teori-teori kebenaran
A.    Pengetahuan dan Keyakinan
Pengetahuan adalah informasi yang diketahui atau disadari oleh manusia, atau pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan indrawi.Pengetahuan akan muncul ketika orang menggunakan akal atau indranya untuk mengenali benda atau peristiwa tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan. Misalnya, saat pertama kali orang makan cabai maka Dia akan tahu bagaimana rasa cabai itu, bentuknya, warnanya, atau bahkan akan bertanya-tanya apa zat-zat apa yang dikandungnya.
Pengetahuan empiris menekankan pada pengamatan dan pengalaman indrawi, sedangkan pengetahuan rasional didapatkan melalui akal budi. Misalnya, orang mengetahui bahwa cabai rasanya pedas karena dia pernah memakannya. Tidak mungkin hanya dengan dipikir-pikir orang itu akan mengetahui bahwa rasa cabai adalah pedas. Nemun, pernyataan 1+1=2 adalah hasil dari pemikiran (akal) manusia, bukan merupakan suatu pengamatan empiris.
Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan manusia saat dia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Maksudnya adalah orang akan merasa yakin kalau apa yang mereka ketahui adalah benar. Jadi, keyakinan terjadi setelah orang percaya adanya suatu kebenaran.
Menurut teori kebenaran sebagai kesesuaian, keyakinan adalah suatu pernyataan yang tidak disertai bukti yang nyata. Misalnya, petir disebabkan oleh amukan para dewa. Pernyataan ini tidak bisa dibuktikan, sehingga hanya bisa dikatakan sebagai suatu keyakinan. Sementara pernyataan petir disebabkan kerena adanya tabrakan antara awan yang bermuatan positif dan negative adalah suatu kebenaran, karena dapat dibuktikan. Sehingga pernyataan ini disebut sebagai pengetahuan.
Ada dua istilah yang berhubungan dengan keyakinan dan pengetahuan.
1. Magic power- (kekuatan magis) –> fenomena kekuatan gaib. Orang yang lebih percaya pada sesuatu yang aneh(karena tidak tahu sebabnya) sebagai kekuatan magis.
2. Naturalisme, berarti sesuatu yang alami.
B.     Sumber pengetahuan rasionalisme dan empirisme
Rasionalisme ini beranggapan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasio. Jadi dalam proses
perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia harus dimulai dari rasio. Tanpa rasio
maka mustahil manusia itu dapat memperolah ilmu pengetahuan.  Rasio itu adalah berpikir. Maka
berpikir inilah yang kemudian membentuk pengetahuan. Dan manusia yang berpikirlah yang akan
memperoleh pengetahuan. Semakin banyak manusia itu berpikir maka semakin banyak pula
pengetahuan yang didapat. Berdasarkan pengetahuan lah manusia berbuat dan menentukan
tindakannya. Sehingga nantinya ada perbedaan prilaku, perbuatan, dan tindakan manusia sesuai
dengan perbedaan pengetahuan yang didapat tadi.
Namun demikian, rasio juga tidak bisa berdiri sendiri. Ia juga butuh dunia nyata. Sehingga proses
pemerolehan pengetahuan ini ialah rasio yang bersentuhan dengan dunia nyata di dalam berbagai
pengalaman empirisnya. Maka dengan demikian, seperti yang telah disinggung sebelumnya kualitas
pengetahuan manusia ditentukan seberapa banyak rasionya bekerja. Semakin sering rasio bekerja
dan bersentuhan dengan realitas sekitar maka semakin dekat pula manusia itu kepada kesempunaan.
Dunia merupakan sebab akibat. Perkembangan akal ditentukan pengalaman empiris (sensual).
Sumber pengetahuan adalah kebenaran nyata (empiris) pengetahuan datang dari pengalaman (rasio
pasif pada saat pertama pengetahuan didapatkan).

C.     Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
Kebenaran ilmiah paling tidak memiliki tiga sifat dasar, yakni:
1.     Struktur yang rasional-logis. Kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional, maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik), dapat memahami kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal. Dalam memahami pernyataan di depan, perlu membedakan  sifat rasional (rationality) dan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku untuk kebenaran ilmiah, sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu di luar lingkup pengetahuan. Sebagai contoh: tindakan marah dan menangis atau semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin tidak rasional.
2.     Isi empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada, bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah, berkaitan dengan kenyataan empiris di alam ini. Hal ini tidak berarti bahwa dalam kebenaran ilmiah, spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun suatu pernyataan dianggap benar secara logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara empiris.
3.     Dapat diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis, berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya, jika suatu “pernyataan benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris, maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia. Berguna, berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya.
Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan. Pada saat pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status ontologis objek dan sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan tejadi) yang disesuaikan dengan metodologisnya.
Hal yang penting dan perlu mendapat perhatian dalam hal kebenaran ilmiah yaitu bahwa kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau konvensi dari para ilmuwan pada bidangnya masing-masing.

Kebenaran ditemukan dalam pernyataan-pertanyaan yang sah, dalam ketidak-tersembunyian (aleteia). Kebenaran adalah kesatuan dari pengetahuan dengan yag diketahui, kesatuan subjek dengan objek, dan kesatuan kehendak dan tindakan. Kebenaran sering dianggap sebagai sesuatu yang harus “ditemukan” atau direbut melalui pembedaan antara kebenaran dengan ketidakbenaran.

Pengenalan Filsafat
a)      Pengertian Filsafat
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
b)     Ilmu pengetahuan sebagai sketsa umum pengantar untuk memahami filsafat ilmu.
Melihat dari sejarah hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat cepat. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Menurut Bertens, filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah. Namun munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Ilmu pengetahuan di ambil dari bahasa inggris science, yang berasal dari bahasa latin scientie dari bentuk kata kerja scire yang berarti mempelajari, mengetahui.Pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu mengalami perluasan arti sehingga menunjuk segenap pengetahuan sistematik. Menurut Bahm defenisi ilmu pengetahuan paling tidak melibatkan enam macam komponen yaitu masalah, sikap, metode, aktivitas, kesimpulan dan pengaruh. Selanjutnya Van Peursen mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut Perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan. Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu pengetahuan,  maka kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik individual maupun sosial menjadi sangat menentukan. Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu. Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu.Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat.
c)      Fenomenologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan.
Fenomenologi adalah sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Agar dapat terjadi pengetahuan, subjek harus terbuka dan terarah atau mengarahkan diri kepada objek untuk mengenal dan mengetahui sebagaimana adanya dan sebaliknya objek harus terbuka dan terarah kepada subjek untuk dikenal sebagaimana adanya. Karena manusia tidak hanya memiliki tubuh jasmani, melainkan juga jiwa yang mengatasi tubuh jasmaninya yang terbatas, maka dengan bantuan jiwa atau akal budinya, manusia mampu mengangkat pengetahuan yang bersifat kontemporal, konkret, jasmani-indrawi ke tingkat yang lebih tinggi yaitu ketingkat abstrak dank arena itu universal. Jadi ilmu pengetahuan muncul karena apa yang sudah diketahui secara spontan dan langsung tadi, disusun san diatur secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu yang bersifat baku.
d)     Filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan.
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip danprosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna.Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (material saja), atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret.
e)      Fokus filsafat ilmu pengetahuan.

Fokus filsafat ilmu pengetahuan adalah masalah metode ilmu pengethauan. Maka logika dan imajinasi merupakan dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu pengetahuan. Tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah membuka pikiran kita untuk mempelajari dengan serius proses logis dan imajinatif dalam cara kerja ilmu pengetahuan.
Diposkan oleh winda lestari di 18.46 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
KONSEP DASAR ETIKA UMUM


KONSEP DASAR ETIKA UMUM
A.    ETIKA DAN MORAL
Pengertian etika
Etika adalah bagian filsafat yang meliputi hidup baik,menjadi orang yang baik, berbuat baik dan menginginkan hal-hal yang baik dalam hidup.
Kata ”Etika” menunjukkan dua hal, yang pertama: disiplin ilmu yang mempelajari nilai-nilia dan pembenaran nya. Kedua: pokok permasalahan disiplin ilmuitu sendiri yaitu nilai-nilai hidup kita yang sesungguhnya dan hukum-hukum tingkah laku kita.
Etika berasal dan bahasa Inggris Ethics, artinya pengertian, ukuran tingkah laku atau perilaku manusia yang baik, yakni tindakan yang tepat yang harus dilaksanakan oleh manusia sesuai dengan moral pada umumnya.
Etika berasal dan bahasa Latin Mos atau Mores (jamak), artinya moral, yang berarti juga adat, kebiasaan, sehingga makna kata moral dan etika adalah sama, hanya bahasa asalnya berbeda.
MORAL
Moral merupakan pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Moral juga berarti ajaran yang baik dan buruk perbuatan dan kelakuan (akhlak). Moralisasi, berarti uraian (pandangan, ajaran) tentang perbuatan dan kelakuan yang baik. Demoralisasi, berarti kerusakan moral.

Menurut asal katanya “moral” dari kata mores dari bahasa Latin, kemudian diterjemahkan menjadi “aturan kesusilaan”. Dalam bahasa sehari-hari, yang dimaksud dengan kesusilaan bukan mores, tetapi petunjuk-petunjuk untuk kehidupan sopan santun dan tidak cabul. Jadi, moral adalah aturan kesusilaan, yang meliputi semua norma kelakuan, perbuatan tingkah laku yang baik. Kata susila berasal dari bahasa Sansekerta,su artinya “lebih baik”, sila berarti “dasar-dasar”, prinsip-prinsip atau peraturan-peraturan hidup. Jadi susila berarti peraturan-peraturan hidup yang lebih baik.

Pengertian moral dibedakan dengan pengertian kelaziman, meskipun dalam praktek kehidupan sehari-hari kedua pengertian itu tidak jelas batas-batasnya.Kelaziman adalah kebiasaan yang baik tanpa pikiran panjang dianggap baik, layak, sopan santun, tata krama, dsb. Jadi, kelaziman itu merupakan norma-norma yang diikuti tanpa berpikir panjang dianggap baik, yang berdasarkan kebiasaan atau tradisi.


B.     Amoral dan immoral
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata amoral berarti tidak bermoral atau tidak berakhlak. Sedangkan immoral berarti bertentangan dengan moralitas yang baik,secara moral buruk, tidak etis.
C.     ETIKA DAN ETIKET
Etika dan etiket adalah hal yang menyangkut perilaku manusia. Namun, kedua-duanya memiliki perbedaan. Berikut ini akan saya jelaskan terlebih dahulu mengenai asal kata dan pengertian dari etika dan etiket.
Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang bermakna watak kebiasaan.
Etiket berasal dari bahasa Perancis, yaitu etiquette yang berarti sopan santun.
Perbedaan etika dan etiket adalah sebagai berikut.

Etika
1. Selalu berlaku walaupun tidak ada saksi mata.
Contoh : larangan untuk mencuri tetap ada walaupun tidak ada yang melihat kita mencuri.
2. Bersifat jauh lebih absolut atau mutlak.
Contoh : “Jangan Mencuri” adalah prinsip etika yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
3. Memandang manusia dari segi dalam.
Contoh : Walaupun bertutur kata baik, pencuri tetaplah pencuri. Orang yang berpegang teguh pada etika tidak mungkin munafik.
4. Memberi norma tentang perbuatan itu sendiri.
Contoh : Mengambil barang milik orang lain tanpa izin orang tersebut tidak diperbolehkan.

Etiket
1. Hanya berlaku dalam pergaulan. Etiket tidak berlaku saat tidak ada orang lain atau saksi mata yang melihat.
Contoh : Sendawa di saat makan melakukan perilaku yang dianggap tidak sopan. Namun, hal itu tidak berlaku jika kita makan sendirian, kemudian sendawa dan tidak ada orang yang melihat sehingga tidak ada yang beranggapan bahwa kita tidak sopan.
2. Bersifat relatif.
Contoh : Yang dianggap tidak sopan dalam suatu kebudayaan bisa saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain.
3. Hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja.
Contoh : Banyak penipu dengan maksud jahat berhasil mengelabui korbannya karena penampilan dan tutur kata mereka yang baik.
4. Etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan oleh manusia.
Misalnya : Memberikan sesuatu kepada orang lain dengan menggunakan tangan kanan.
D.    Setelah mempelajari rumusan-rumusan tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa:
Filsafat adalah ilmu istimewa yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat di jawab oleh ilmu pengetahuan biasa, karena masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
Istilah filsafat dapat ditinjau dari dua segi, yaitu:
1.   Segi semantik, perkataan filsafat berasal dari kata Arab dan Yunani, yaitu falsafah dan philosophia.
2.   Segi praktis, dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti alam pikiran atau alam berpikir.
Dan juga dapat diketahui bahwa etika itu merupakan sebagai ilmu pengatahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan baik dan buruk. Etika dapat mengantar orang kepada kemampuan untuk bersikap kritis dan rasional, untuk membantu pendapatnya sendiri dan tidak bertindak sesuai dengan apa yang dipertanggungjawabkannya sendiri.
Etika menyelidiki dasar semua norma moral. Dalam etika dibedakan antara etika deskriptif dan etika normatif.
1.  Etika Deskriptif
Etika deskriptif menguraikan dan menjelaskan kesadaran-kesadaran dan pengalaman moral secara deskriptif. Etika deskriptif dibagi menjadi dua, yaitu: sejarah moral dan fenomenologi moral
2.   Etika Normatif
Etika normatif menjelaskan tentang nilai-nilai yang seharusnya dilakukan serta memunginkan manusia untuk mengatur tentang apa yang terjadi.
Etika normatif mengandung dua bagian besar, yaitu:
a.   Membahas tentang teori nilai (theory of vale)
b.   Teori keharusan (theory of obligation).

E.     Peranan Etika dalam Dunia Modern
1. Adanya pluralisme moral Adalah suatu kenyataan sekarang ini bahwa kita hidup dalam zaman yang semakin pluralistik, tidak terkecuali dalam hal moralitas. Setiap hari kita bertemu dengan orang-orang dari suku, daerah lapisan social dan agama yang berbeda. Pertemuan ini semakin diperbanyak dan diperluas oleh kemajuan yang telah dicapai dalam dunia tekhnologi infomasi, yang telah mengalami perkembangan sangat pesat. Dalam pertemuan langsung dan tidak langsung dengan berbagai lapisan dan kelompok masyarakat kita menyaksikan atau berhadapan dengan pelbagai pandangan dan sikap yang, selain memiliki banyak kesamaan, memiliki juga banyak perbedaan bahkan pertentangan. Masing-masing pandangan mengklaim diri sebagai pandangan yang paling benar dan sah. Kita mengalaminya sepertinya kesatuan tatanan normtif sudah tidak ada lagi. Berhadapan dengan situasi, semacam in, kita akhirnya bertanya, tapi yang kita tanyakan bukan hanya apa yang merupakan kewajibanm kita dan apa yang tidak, melainkan manakah norma-norma untuk menentukan apa yang harus dianggap sebagai kewajiban. 2. Timbulnya masalah-masalah etis baru. Ciri lain yang menandai zaman kita adalah timbul masalah-masalh etis baru, terutama yang disebabkan perkembangan pesat dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi khusunya ilmu-ilmu biomedis. Telah terjadi manipulasi genetis, yakni campur tangan manusia atas perkembangbiakan gen-gen manusia. Masalah cloning dan penciptaan manusia super sangatlah mengandung masalah-masalah etis seru dalam kehidupan manusia. Bagaimana sikap kita menghadapi perkembangan seperti ini? Disinilah kajian pertanggungjawaban etika diperlukan. 3. Munculnya kepedulian etis yang semakin universal. Ciri berikutnya yang menandai zaman kita adalah adanya suatu kepedulian etis yang semakin univeral. Diberbagai tempat atau wilayah di dunia kita menyaksikan gerakan perjuangan moral untuk masalah-masalah bersama umat manusia. Selain pergerakak-pergerakan perjuangan moral yang terorganisir seperti dalam bentuk kerjasama antar Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat , antar Dewan Perwakilan Rakyat dari beberapa negara atau Serikat-serikat Buruh, dan sebagainya, juga kita dapat menyaksikan adanya suatu kesadaran moral universal yang tidak terorganisir tapi terasa hidup dan berkembang dimana-mana. Ungkapan-ungkapan kepedulian etis yang semakin berkembang ini tidaklah mungkin terjadi tanpa di latarbelakangi oleh kesadaran moral yang universal. Gejala yang paling mencolok tentang kepedulian etis adalah Deklarasi Universal tentang Hak-hak Azasi Manusia, Yang diproklamirkan oleh Persatuan Bangsa Bangsa (UNO) pada 10 Desember 1948. Dengan kepedulian etis yang universal ini, maka pluralisme moral pada bagian pertama diatas dapat menjadi persoalan tersendiri. 4. Hantaman gelombang modernisasi Kita sekarang ini hidup dalam masa transformasi masyarakat yang tanpa tanding. Perubahan yang terus terjadi itu muncul dibawah hantaman kekuatan yang mengenai semua segi kehidupan kita, yaitu gelombang modernisasi. Yang dimaksud gelombang modernisasi disini bukan hanya menyangkut barang atau peralatan yang diproduksi semakin canggih, melainkan juga dalam hal cara berpikir yang telah berubah secara radikal. Ada banyak cara berpikir yang berkembnag, sepeti rasionalisme, individualisme, nasionalisme, sekularisme,materialisme, konsumerisme, pluralisme religius, serta cara berpikir dan pendidikan modern yang telah banyak mengubah lingkungan budaya, social dan rohani masyarakat kita. 5. Tawaran berbagai ideologi Proses perubahan social budaya dan moral yang terus terjadi, tidak jarang telah nmembawa kebingungan bagi banyak orang atau kelompok orang. Banyak orang merasa kehilangan pegangan, dan tidak tahu harus berbuat atau memilih apa. Situasi seperti ini tidak jarang dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk menawarkan ideology-ideologi mereka sebagai jawaban atas kebingungan tadi. Ada cukup bsnysk orsng ysng terombang-ambing mengikuti tawaran yang masing-masing mempunyai daya tarik sendiri itu. Disini etika dapat membantu orang untuk sanggup menghadapi secara kritis dan objektif berbagai ideology yang muncul. Pemikiran kritis dapat membantu untuk membuat penilaian rasional dan objektif, dan tidak mudah terpancing oleh berbagai alas an yang tidak mendasar. Sikap kritis yang dimaksud disini, bukan suatu sikap yang begitu saja menolak ide-ide baru atau juga begitu saja menerimanya, melainkan melakukan penilaian kritis untuk memahami sejauh mana ide-ide baru itu dapat diterima dan sejauh mana harus dengan tegas ditolak. 6. Tawaran bagi agamawan Etika juga diperlukan oleh para agamawan untuk tidak menutup diri terhadap persoalan-persoalan praktis kehidupan umat manusia. Di satu pihak agama menemukan dasar kemantapan mereka dalam iman kepercayaan mereka, namun sekaligus diharapkan juga mau berpartisipasi tanpa takut-takut dan menutup diri dalam semua dimensi kehidupan masyarakat yang sedang mengalami perubahan hampir disegala bidang. Walau etika tidak dapat menggantikan agama, namun etika tidaklah bertentangan dengan agama, dan bahwa agama memerlukan etika. Alasan yang bias dikemukan bagi pentingnya etika untuk agama adalah, pertama: masalah interprestasi terhadap perintah atau hukum yang termuat dalam wahyu Tuhan, terutama seperti tertuang dalam kitab suci keagamaan. Banyak ahli agama, bahkan seagama sekalipun, sering berbeda pendapat tentang apa yang sebenarnya mau diungkapkan dalam wahyu itu. Kedua: mengenai masalah-masalah moral yang baru, yang tidak langsung dibahas dalam wahyu itu sendiri. Bagaimana menanggapinya dari segi agama masalah-masalah moral yang pada waktu wahyu diterima belum dipikirkan. Untuk mengambil sikap yang dapat dipertanggung jawabkan terhadap masalah-masalah yang timbul kemudian, diperlukan etika. Disini etika dapat dimengerti sebagai usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya yang rasional untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik. Usaha seperti ini tidak bertentangan dengan iman karena akal budi juga merupakan anugerah besar dari sang Pencipta kepada umat manusia.

F.      Moral dan agama
Agama mempumyai hubungan erat dengan moral. Dsar terpenting dari tingkah laku moral adalah agama. Agama mengatur bagaimana cara kita hidup. Setiap agama mengandung ajaran moral yang menjadi pegangan bagi setiap penganutnya.
G.    MORAL DAN HUKUM
Kata moral selalu mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia (bukan sebagai dosen, fransiskan, tukang becak). Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikkannya sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolok ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik-buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas.
Hukum adalah norma-norma yang dituntut dengan tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu demi keselamatan dan kesejahteraan umum. Norma hukum adalah norma yang tidak dibiarkan untuk dilanggar. Orang yang melanggar hukum pasti dikenai hukuman sebagai sanksi.
Terdapat hubungan erat antara moral dan hukum; keduanya saling mengandaikan dan sama-sama mengatur perilaku manusia. Hukum membutuhkan moral. Hukum tidak berarti banyak kalau tidak dijiwai oleh moralitas. Tanpa moralitas, hukum adalah kosong. Kualitas hukum sebagian besar ditentukan oleh mutu moralnya. Karena itu, hukum harus selalu diukur dengan norma moral. Produk hukum yang bersifat imoral tidak boleh tidak harus diganti bila dalam masyarakat kesadaran moral mencapai tahap cukup matang.
Di sisi lain, moral juga membutuhkan hukum. Moral akan mengawang-awang kalau tidak diungkapkan dan dilembagakan dalam masyarakat dalam bentuk salah satunya adalah hukum. Dengan demikian, hukum bisa meningkatkan dampak sosial dari moralitas. "Menghormati milik orang lain" misalnya merupakan prinsip moral yang penting. Ini berarti bukan saja tidak boleh mengambil dompet orang lain tanpa izin, melainkan juga milik dalam bentuk lain termasuk milik intelektual, hal-hal yang ditemukan atau dibuat oleh orang lain (buku, lagu, komposisi musik, merk dagang dsb).
Hal ini berlaku karena alasan etis, sehingga selalu berlaku, juga bila tidak ada dasar hukum. Tetapi justru supaya prinsip etis ini berakar lebih kuat dalam masyarakat, kita mengadakan persetujuan hukum tentang hak cipta, pada taraf internasional, seperti konvensi Bern (1889).
Namun perbedaan di antara keduanya perlu tetap dipertahankan dan tidak semua norma moral dapat serta perlu dijadikan norma hukum. Kendati pemenuhan tuntutan moral mengandaikan pemenuhan tuntutan hukum, keduanya tidak dapat disamakan begitu saja. Kenyataan yang paling jelas membuktikan hal itu adalah terjadinya konflik antara keduanya.
Di bawah ini akan ditunjukkan beberapa poin penting perihal perbedaan antara moral dan hukum.
Hukum lebih dikodifikasikan daripada moralitas, artinya dituliskan dan secara kurang lebih sistematis disusun dalam kitab undang-undang. Karena itu norma yuridis mempunyai kepastian lebih besar dan bersifat lebih objektif. Sebaliknya norma moral bersifat lebih subjef dan akibatnya lebih banyak diganggu oleh diskusi-diskusi yang mencari kejelasan tentang apa yang dianggap etis atau tidak etis. Tentu saja di bidang hukum pun terdapat banyak diskusi dan ketidakpastian tetapi di bidang moral ketidakpastian ini lebih besar karena tidak ada pegangan tertulis.
Hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja, sedangkan moral menyangkut juga sikap batin seseorang. Itulah perbedaan antara moralitas dan legalitas (bdk Kant). Niat batin tidak termasuk jangkauan hukum. Sebaliknya dalam konteks moralitas sikap batin sangat penting. Orang yang hanya secara lahiriah memenuhi norma-norma moral berlaku "legalistis". Sebab, legalisme adalah sikap memenuhi norma-norma etis secara lahiriah saja tanpa melibatkan diri dari dalam.
Sanksi yang berkaitan dengan hukum berlainan dengan sanksi yang berkaitan dengan moralitas. Hukum untuk sebagian besar dapat dipaksakan; orang yang melanggar hukum akan mendapat sanksi/hukuman. Tetapi norma-norma etis tidak dapat dipaksakan. Menjalankan paksaan dalam bidang etis tidak efektif juga. Sebab paksaan hanya dapat menyentuh bagian luar saja, sedangkan perbuatan-perbuatan etis justru berasal dari dalam. Satu-satunya sanksi dalam bidang moralitas adalah hati nurani yang tidak tenang karena menuduh si pelaku tentang perbuatannya yang kurang baik.
Hukum didasarkan atas kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara. Juga kalau hukum tidak secara langsung berasal dari negara seperti hukum adat maka hukum itu harus diakui oleh negara seupaya berlaku sebagai hukum. Moralitas didasarkan pada norma-norma moral yang melampaui para individu dan masyarakat. Dengan cara demokratis ataupun cara lain masyarakat dapat mengubah hukum tetapi tidak pernah masyarakat mengubah atau membatalkan suatu norma moral. Masalah etika tidak dapat diputuskan dengan suara terbanyak.
Berhadapan dengan latar belakang pemikiran di atas kita lantas bertanya apakah karena persoalan moral dan hukum yang begitu erat kaitannya sehingga kasus Soeharto tidak bisa tuntas di mejahijau. Bapak Pembangunan di satu sisi (persoalan moral) dan koruptor (yang harus dipecahkan secara hukum) membingungkan seluruh warga bangsa ini untuk menentukan Soeharto sebagai penjahat atau orang baik? Sulit memang jika ini menjadi dilema politik bangsa ini.

H.    Hati Nurani
Memberikan penghayatan tentang baik atau buruk berhubungan dengan tingkah laku nyata kita. Hati nurani bisa merupakan penilaian terhadap perbuatan yang telah berlangsung dimasa lampau (retrospektif). Hati nurani juga bisa merupakan penilaian perbuatan yang sedang dilaksanakan saat ini atau penilaian terhadap perbuatan kita di masa yang akan datang (prospektif).
I.       SHAME CULTURE DAN GUILT CULTURE
Menurut pandangan ini, shame culture adalah kebudayaan di mana pengertian-pengertian seperti “hormat”, “reputasi”, “nama baik”, “status” dan “gengsi” sangat ditekankan. Bila orang melakukan suatu kejahatan, hal itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang buruk begitu saja, melainkan sesuatu yang harus disembunyikan  untuk orang lain. Malapetaka paling besar terjadi, bila suatu kesalahan diketahui oleh orang lain, sehingga pelaku kehilangan muka. Harus dihindarkan sekuat tenaga agar si pelaku jangan dicela atau dikutuk oleh orang lain. Bukan perbuatan jahat itu sendiri yang dianggap penting; yang penting ialah bahwa perbuatan jahat tidak akan diketahui. Bila perbuatan jahat toh sampai diketahui, ya, pelakunya menjadi “malu”. Dalam shame culture sanksinya datang dari luar, yaitu apa yang dipikirkan atau dikatakan oleh orang lain. Kiranya, sudah jelas bahwa dalam shame culture tidak ada nurani.
Sebaliknya, guilt culture adalah kebudayaan di mana pengertian-pengertian seperti  “dosa” (sin), “kebersalahan” (guilt), dan sebagainya sangat dipentingkan. Sekalipun suatu kejahatan tidak akan pernah diketahui oleh orang lain,  namun si pelaku merasa bersalah juga. Ia menyesal dan kurang tenang karena perbuatan itu sendiri, bukan karena dicela atau dikutuk oleh orang lain, jadi bukan karena tanggapan pihak luar. Dalam guilt culture, sanksinya tidak datang dari luar, melainkan dari dalam : dari batin orang yang bersangkutan. Dapat dimengerti bahwa dalam guilt culture semacam itu hati nurani memegang peranan sangat penting”.
Menurut  para anthropolog, hampir sebagian besar kebudayaan Asia adalah shame culture, sedangkan kebudayaan barat di Eropa dan Amerika adalah guilt culture. Pengelompokan ini sangat bersifat umum dan tidak selalu benar. Kebudayaan Jepang dalam kenyataannya justru condong kepada budaya salah.
J.       Kebebasan dan tanggung jawab
Terdapat hubungan timbal balik antara kebebasan dan tanggung jawab.
Batas-batas kebebasan meliputi:
a.       Faktor internal.
b.      Lingkungar.
c.       Kebebasan orang lain.
d.      Generasi penerus yang akan datang.
K.    Nilai dan Norma
Nilai adalah :
1.      Sifat hal yang penting, berguna bagi kemanusiaan
2.      Sesuatu yang paling dibanggakan
3.      Sesuatu yang ingin dicapai
4.      Sesuatu yang dikagumi
5.      Kualitas atau fakta

Norma adalah :
1.      Ukuran
2.      Suatu aturan
3.      Pedoman yang mengatur tingkah laku masyarakat
4.      Standar pertimbangan
Nilai merupakan sesuatu yang baik, sesuatu yang menarik, sesuatu yang dicari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai,sesuatu yang diinginkan. Menurut filsuf Jerman Hang Jonas nilai adalah the addressof a yes, sesuatu yang ditunjukkan dengan kata ya kita. Sesuatu yang kita iakan. Nilai mempunyai konotasi yang positif. Nilai mempunyai tiga ciri:
a.       Berkaitan dengan subyek.
b.      Tampil dalam sutu niali yang praktis karena subyek ingin membuat sesuatu.
c.       Nilai menyangkut pada sifat yang ditambah oleh subyek pada sifat yang dimiliki obyek.

Norma berasal dari bahsa Latin Norma, artinya aturan atau kaidah yang dipakai sebagai tolok ukur menilai sesuatu.
Norma umum meliputi tiga hal:
a.       Norma kesopanan atau etiket
b.      Norma hukum
c.       Norma moral, adalah norma yang tertinggi dan norma moral tidak dapat dilampaui oleh norma yang lain tetapi menilai norma-norma yang lain.
Sumber dari nilai dan norma adalah agama, kebudayaan, nasionalisme, dan lain-lain.
L.     Hak dan kewajiban
Hak  merupakanpengakuan yang dibuat oleh orang tau sekelompok orang terhadap orang atau sekelompok  orang lain.
Setiap kewajiban seseorang berkaitan dengan hak orang lain. Kewajiban sempurna artinya kewajiban didasarkan atas keadialn, selalu terkait dengan hak orang lain. Sedanhakan kewajiban tidak sempurna, tidak terkait dengan hak orang lain tetapi bisa didasarkan atas kemurahan hati atau niat berbuat baik.
M.   Berdasarkan pendekatan moral dalam tradisi pemikiran filsafat etika dibagi menjadi dua, yaitu etika kewajiban dan etika keutamaan. Etika kewajiban cenderung mengarahkan orang  kepada apa yang seharusnya dilakukan seseorang, dan lebih menekankan kepada perbuatan-perbuatan tertentu yang dilakukan oleh orang tersebut. Sedangkan etika keutamaan cenderung mengarahkan bagaimana hendaknya seseorang melakukan sesuatu, dan tidak terpaku kepada perbuatan-perbuatan tertentu yang dilakukan orang tersebut. Namun demikian, keduanya saling berkaitan satu sama lain.
            Seseorang yang memiliki kepribadian yang baik umumnya dihargai, sebab mereka telah menjalankan seluruh hal-hal yang dianggap baik dan dijunjung tinggi oleh masyarakat. Berperilaku baik artinya juga menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang berlaku, misalnya: nilai kejujuran, nilai kesopanan, nilai kesusilaan, dll. Selain itu juga menjalankan dan mempraktekkan secara benar apa yang diakui dalam nilai-nilai Pancasila sesuai dengan tata tertib, hukum yang berlaku di Indonesia.
B.Saran
Sebagai mahasiswa, hendaknya kita menyeimbangkan antara etika kewajiban dan etika keutamaan yang kita miliki. Menjadi manusia yang baik, memang tidaklah mudah. Namun, sebagai seorang manusia sekaligus mahasiswa yang memiliki jenjang pengetahuan yang lebih tinggi, kita harus tahu dan menjalankan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat agar dapat dihargai dan diterima oleh lingkungan sekitar.

Diposkan oleh winda lestari di 18.40 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Posting Lama Beranda
Langganan: Entri (Atom)

Mengenai Saya
Foto Saya

winda lestari

Lihat profil lengkapku
Arsip Blog

    ▼  2014 (6)
        ▼  November (5)
            TEORI TEORI TENTANG PENGETAHUAN TEORI TEORI TENTA...
            F.Manfaat belajar filsafat limu penetahuana)      ...
                                                              ...
            Pengenalan Filsafata)      Pengertian FilsafatFils...
            KONSEP DASAR ETIKA UMUM KONSEP DASAR ETIKA UMUMA. ...
        ►  September (1)

   
Horizontal Resize - Hello Kitty
   
Template Simple. Gambar template oleh enjoynz. Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 14 November 2014

TEORI TEORI TENTANG PENGETAHUAN


TEORI TEORI TENTANG PENGETAHUAN

A.    pengetahuan dan Keyakinan

1.      Hubungan antara Pengetahuan dan Keyakinan

Keyakinan
Pengetahuan
Objek yang disadari sebagai ada itu, tidak perlu harus ada sebagaimana adanya.
Objek yang disadari itu memang ada sebagaimana adanya.
Bisa keliru.
Tidak bisa keliru / selalu mengandung kebenaran.
Apa yang disadari sebagai ada, bisa saja tidak ada dalam kenyataannya.
Jika suatu pengetahuan terbukti salah atau keliru, tidak bisa lagi dianggap sebagai pengetahuan.

Harus ditunjang oleh bukti-bukti berupa acuan fakta, saksi, memori, catatan historis, dsb.

Dalam ilmu pengetahuan, pengetahuan dirumuskan menjadi proposisi.

Proposisi / hipotesis : pernyataan yang mengungkapkan apa yang diketahui dan / atau diyakini sebagai benar yang perlu dibuktikan lebih lanjut.

Pendapat :
a.       Subjek yang bersangkutan harus sadar bahwa dia tahu.
b.      Tidak perlu ada kesadaran bahwa subjek itu tahu.

2.      Macam-Macam Pengetahuan Menurut Polanya

Tahu bahwa
Tahu bagaimana
Tahu akan / mengenai
Tahu mengapa
Tentang informasi tertentu.
Bagaimana melakukan suatu keterampilan, keahlian, kemahiran teknis seperti manajemen, teknik, organisasi, komputer.
Sesuatu yang sangat spesifik menyangkut pengalaman / pengenalan pribadi.
berkaitan dengan penjelasan.
Tahu bahwa p, dan bahwa pmemang benar.
Dikenal sebagaiknow-how. Berkaitan dengan
Biasanya bersifat singular / hanya berkaitan dengan objek khusus.
Lebih kritis. Merupakan pengetahuan paling tinggi dan mendalam, serta ilmiah.
Disebut juga pengetahuan teoretis, ilmiah.
Disebut juga pengetahuan praktis.
Disebut juga pengetahuan berdasarkan pengenalan.



Perasaan Menurut Plato dan Aristoteles
a.       Perasaan terkejut
b.      Perasaan ingin tahu
c.       Perasaan kagum
Hubungan :
Perasaan terkejut ketika terjadi sesuatu yang tak terduga, sehingga terdorong untuk mengetahui mengapa hal itu terjadi. Setelah mendapatkan penjelasan, pada akhirnya ia akan merasa kagum pada sesuatu yang tak terduga tadi.

3.      Hubungan antara Empat Macam Pengetahuan

a.      Antara ‘tahu bahwa’ dan ‘tahu bagaimana’
‘tahu bagaimana’ hanya merupakan penerapan praktis dari apa yang telah diketahui pada tingkat ‘tahu bahwa’.
b.      Antara ‘tahu bahwa’ dan ‘tahu akan’
Michael Polanyi mengatakan bahwa supaya kita bisa ‘tahu bahwa sesuatu sebagaimana adanya’, kita harus punya pengalaman pribadi secara langsung.
c.       Antara ‘tahu bagaimana’ dan ‘tahu akan’
Dengan mengetahui sesuatu secara pribadi, seseorang pada akhirnya semakin tahu bagaimana bertindak secara tepat.
d.      Antara ‘tahu mengapa’ dan ketiga jenis pengetahuan lainnya
-          Untuk sampai pada pengetahuan yang mendalam dan akurat, kita tidak hanya berhenti pada ‘tahu bagaimana’, melainkan kita perlu melangkah lebih jauh untuk mengetahui mengapa sesuatu terjadi.
-          Untuk bisa tahu bagaimana melakukan sesuatu, dalam banyak kasus kita perlu mengetahui mengapa sesuatu terjadi.
-          Untuk bisa mempunyai ‘pengetahuan mengapa’ sesuatu terjadi, kita perlu mempunyai pengenalan pribadi, yaitu tahu secara mendalam tentang hal itu.

TAHU AKAN
(pengetahuan langsung melalui pengenalan pribadi)






TAHU BAHWA
(masih bersifat umum)






TAHU MENGAPA
(Refleksi, abstraksi, penjelasan)






TAHU BAGAIMANA
(pemecahan, penerapan, tindakan)

4.      Skeptisisme
Sikap dasar : bahwa kita tidak pernah tahu tentang apapun. Meragukan kemungkinan bahwa manusia bisa mengetahui bahwa manusia benar-benar tahu tentang sesuatu.
Sejarah :
Sejak zaman Yunani Kuno pada kelompok filsuf yang dikenal sebagai kaum Sofis. Kaum Sofis meragukan kemungkinan pengetahuan akan alam karena menurut mereka , manusia adalah ukuran dari segala-galanya.
Georgias :
a.       Tidak ada yang benar-benar ada.
b.      Kalaupun ada sesuatu yang ada di dunia ini, kita tidak bisa mengetahuinya.
c.       Kalaupun kita bisa mengetahuinya, kita tidak bisa mengkomunikasikan apa yang kita ketahui itu kepada orang lain

B.     SUMBER PENGETAHUAN RASIONALISME DANEMPIRISME

1. RASIONALISME
Secara etimologis Rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalism. Kata ini berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti “akal”. Menurut A.R. Lacey bahwa berdasarkan akar katanya Rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal. Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki.
Sementara itu, secara terminologis aliran ini dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan. Ia menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi. Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal yang memenuhi syarat semua pengetahuan ilmiah. Pengalaman hanya dipakai untuk mempertegas pengetahuan yang diperoleh akal. Akal tidak memerlukan pengalaman. Akal dapat menurunkan kebenaran dari dirinya sendiri, yaitu atas dasar asas-asas pertama yang pasti.
Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran. Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia, melihat tambahan ilmu pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu alam. Maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikut orang-orang yang terpelajar Makin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang hidup dan dunia. Hal ini menjadi menampak lagi pada bagian kedua abad ke XVII dan lebih lagi selama abad XVIII antara lain karena pandangan baru terhadap dunia yang diberikan oleh Isaac Newton (1643 -1727). Berkat sarjana Fisika Inggeris ini yaitu menurutnya Fisika itu terdiri dari bagian-bagian kecil (atom) yang berhubungan satu sama lain menurut hukum sebab akibat. Semua gejala alam harus diterangkan menurut jalan mekanis ini. Harus diakui bahwa Newton sendiri memiliki suatu keinsyafan yang mendalam tentang batas akal budi dalam mengejar kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Berdasarkan kepercayaan yang makin kuat akan kekuasaan akal budi lama kelamaan orang-orang abad itu berpandangan dalam kegelapan. Baru dalam abad mereka menaikkan obor terang yang menciptakan manusia dan masyarakat modern yang telah dirindukan, karena kepercayaan itu pada abad XVIII disebut juga zaman Aufklarung (pencerahan).
Dalam perkembangannya Rasionalisme diusung oleh banyak tokoh, masing-masing dengan ajaran-ajaran yang khas, namun tetap dalam satu koridor yang sama. Tokoh-tokoh rasionalisme pada abad XVII adalah: Rene Descartes (1596 -1650), Nicholas Malerbranche (1638 -1775), Baruch De Spinoza (1632 -1677 M), Gottfried Wilhelm von Leibniz (1946-1716), Christian Wolff (1679 -1754), Blaise Pascal (1623 -1662 M)
Sedangkan pada abad XVIII dikenal nama-nama seperti Voltaire, Diderot dan D’Alembert.

1.2  EMPIRISME
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empeiria yang berarti pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Akan tetapi tidak berarti bahwa rasionalisme ditolak sama sekali. Dapat dikatakan bahwa rasionalisme dipergunakan dalam kerangka empirisme, atau rasionalisme dilihat dalam bingkai empirisme .
 John Locke (1632-1704)  sebagai tokoh paling awal dalam urutan empirisme Inggris, merupakan sosok yang paling konservatif Ia merasa menerima keraguan sementara yang diajarkan oleh Descartes sehingga ia menolak anggapan Descartes yang menyatakan keunggulan dari “yang dipahami” adalah “yang dirasa”. Ia hanya menerima pemikiran matematis yang pasti dan penarikan dengan cara metode induksi.
Secara menarik Locke membandingkan budi manusia pada saat lahir dengan tabula rasa, yaitu sebuah papan kosong yang belum tertulis apapun, yang artinya segala sesuatu yang ada dalam pikiran berasal dari pengalaman inderawi, tidak dari akal budi. Otak itu seperti sehelai kertas yang masih putih dan baru melalui pengelaman inderawi itu sehelai kertas itu diisi. Dengan ini beliau tidak hanya mau menyingkirkan gagasan mengenai “ide bawaan”, tetapi juga untuk mempersiapkan penjelasan bagaimana arti disusun oleh kerja keras data sensoris (indrawi). Locke mengatakan bahwa tidak ada ide yang diturunkan, sehingga dia menolak innate idea atau ide bawaan. Menurut Locke semua ide diperoleh dari pengalaman, dan terdiri atas dua macam, yaitu:
1. Ide ide Sensasi, yang diperoleh dari pancaindra seperti, melihat, mendengar, dan lain-lain.
2. Ide-ide Refleksi yang diperoleh dari berbagai kegiatan budi seperti berpikir, percaya, dan sebagainya.
Jadi menurut Locke, apa yang kita ketahui adalah “ide”.
Kebanyakan orang mengatakan bahwa mereka sadar akan benda-benda. Tetapi menurut Locke objek kesadaran adalah ide. Ide adalah “objek akal seawktu seseorang berpikir, saya telah menggunakannya utnuk menyatakan apa saja yang dimaksud dengan fantasnya, maksud species, atau apa saja yang digunakan budi untuk berpikir….”(Sterling Lamperch 1928 dalam Hardono Hadi 1994).Locke juga mengatakan bahwa ide adalah “objek langsung dari persepsi” (Sterling Lamperch 1928 dalam Hardono Hadi 1994).

1.3. PERSAMAAN RASIONALISME DENGAN EMPIRISME
Berawal pada pembahasan mengenai perbedaan masing-masing ranah. Rasionalisme berasal dari pencernaan rasio, akal budi, dan wahyu dari Tuhan (a priori), sementara empirisme lebih menekankan pada pengalaman indrawi (a posteriori), baik lahiriah (sensation) maupun batiniah (reflection). Untuk metode yang digunakan, rasionalisme adalah kesangsian, dan empirisme metode observasi, dengan instrumen-instrumen pengetahuan diantaranya. Belum lagi soal metode analisis pengujian yang dipakai keduanya. Rasionalsime dengan matematika analisis, dan empirisme dengan ilmu-ilmu alamnya.
>   Sama-sama menggunakan rasio

Meskipun empirisme ngotot mempertahankan idenya bahwa pengalamanlah yang menjadi dasar dari segala pengetahuan, namun tak dapat dipungkiri bahwa dalam proses penalarannya, rasio pasti digunakan.

>   Memiliki tujuan yang sama

Tujuan dari semua tradisi pemikiran filsafat adalah sama, yaitu mencapai hakikat kebenaran dan pengetahuan.

>   Menggunakan metode untuk analisis.

Dua paham ini tentu saja menggunakan metode khusus dalam analisisnya, baik untuk mencapai pengetahuan itu sendiri, maupun dalam proses analisis pengujiannya.

>   Keduanya mengusung perubahan

Awal kemunculan rasionalisme didasari oleh merebaknya dogma-dogma dan doktrin-doktrin agama (waktu itu gereja) terhadap filsafat. Maka Rene Descartes, tokoh awal tradisi pemikiran ini, mengusung proyek perubahannya dengan mengedepankan akal dan rasio dalam menemukan hakikat pengetahuan. Begitu juga empirisme. Setelah menyebarnya paham rasionalisme, empirisme mengajukan diri dengan mengatakan bahwa ia datang untuk memurnikan filsafat dan perbaikan terhadap paham sebelumnya.

>  Kebenaran yang dihasilkan sama-sama menimbulkan korban

Rasionalisme, yang menekankan pada metode clear and distinct (jelas dan berbeda) untuk kebenaran yang diusungnya, pada akhirnya pasti akan menimbulkan korban. Mengapa? Saat kebenaran yang diyakini jelas dan berbeda itu ditemukan, maka semua hal lain akan dianggap salah. Sebagai contoh paradigma rasionalsime: perempuan dikatakan cantik bila memenuhi kriteria-kriteria yang telah disepakati. Maka jika tidak sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan, menurut rasionalisme, jelas dikatakan tidak cantik alias salah. Tidak ada kebenaran kedua bagi rasionalisme. Hal ini jelas memarginalkan yang lain, dan menjadikannya korban.

Sedangkan empirisme, kebenaran yang menurutnya berdasar pada moral juga sangat memarginalkan lawannya. Semua yang dianggap tak bermoral, atau katakanlah, bermoral buruk, maka akan disingkirkan, dan diasingkan. Hal ini memicu terbentuknya suatu pemerintahan egaliter yang diktator dan semena-mena, terutama terhadap kelompok yang dianggap tak memenuhi kriteria moral yang disepakati.

Jelaslah bahwa keduanya menimbulkan korban, dan inilah kritik mendasar akan keduanya, yang sekaligus merupakan persamaan bagi kedua paham tersebut.

2.4. PERBEDAAN RASIONALISME DENGAN EMPIRISME
Setelah dipaparkan diatas, tidak mengherankan bila rasionalisme dan emperisme masing-masing mempunyai pendirian yang sangat berlainan tentang sifat pengenalan manusiawi. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari rasio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur saja. Sebaliknya, empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman, sehingga pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Seperti kita lihat pada rasionalisme di daratan Eropa, pada empirisme Inggrispun masalah subtansi ramai di bicarakan.
perbedaan antara Rasionalisme dan Empirisme yakni bahwa Rasionalisme berasal dari pencernaan rasio, akal budi, dan wahyu dari Tuhan (a priori), sementara empirisme lebih menekankan pada pengalaman indrawi (a posteriori), baik lahiriah (sensation) maupun batiniah (reflection). Untuk metode yang digunakan, rasionalisme adalah kesangsian, dan empirisme metode observasi, dengan instrumen-instrumen pengetahuan diantaranya. Belum lagi soal metode analisis pengujian yang dipakai keduanya. Rasionalsime dengan matematika analisis, dan empirisme dengan ilmu-ilmu alamnya.
C.     KEBENARAN ILMIAH
Berbicara tentang kebenaran ilmiah, tentunya tidak lepas dari pemahaman tentang ilmu. Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima – ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui, sementara itu secara istilah ilmu diartikan sebagai idroku syai bi haqiqotih (mengetahui sesuatu secara hakiki). Dalam bahasa Inggris, ilmu biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata science (berasal dari bahasa latin dari kata scio, scire yang berarti tahu) umumnya diartikan ilmu tapi sering juga diartikan dengan ilmu pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu pada makna yang sama. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu .
Menurut The Liang Gie secara lebih khusus menyebutkan ciri-ciri ilmu sebagai berikut :
a. Empiris (berdasarkan pengamatan dan percobaan)
b. Sistematis (tersusun secara logis serta mempunyai hubungan saling bergantung dan teratur)
c. Objektif (terbebas dari persangkaan dan kesukaan pribadi)
d. Analitis (menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian yang terinci)
e. Verifikatif (dapat diperiksa kebenarannya)
Sementara itu Beerling menyebutkan ciri ilmu (pengetahuan ilmiah) adalah :
a. Mempunyai dasar pembenaran
b. Bersifat sistematik
c. Bersifat intersubjektif
Setelah kita memahami tentang ilmu itu sendiri, kita akan lebih mudah dalam menafsirkan apa itu kebenaran ilmiah. Yaitu, kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan. Pada saat pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status ontologis objek dan sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan tejadi) yang disesuaikan dengan metodologisnya. Hal yang penting dan perlu mendapat perhatian dalam hal kebenaran ilmiah yaitu bahwa kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau konvensi dari para ilmuwan pada bidangnya masing-masing.
Kebenaran ditemukan dalam pernyataan-pertanyaan yang sah, dalam ketidak-tersembunyian. Kebenaran adalah kesatuan dari pengetahuan dengan yag diketahui, kesatuan subjek dengan objek, dan kesatuan kehendak dan tindakan. Kebenaran sering dianggap sebagai sesuatu yang harus “ditemukan” atau direbut melalui pembedaan antara kebenaran dengan ketidakbenaran. Dan kebenaran ilmiah paling tidak memiliki tiga sifat dasar, yakni:
a. Struktur yang rasional-logis. Kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional, maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik), dapat memahami kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal. Dalam memahami pernyataan di depan, perlu membedakan sifat rasional (rationality) dan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku untuk kebenaran ilmiah, sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu di luar lingkup pengetahuan. Sebagai contoh: tindakan marah dan menangis atau semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin tidak rasional.
b. Isi empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada, bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah, berkaitan dengan kenyataan empiris di alam ini. Hal ini tidak berarti bahwa dalam kebenaran ilmiah, spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun suatu pernyataan dianggap benar secara logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara empiris.
c. Dapat diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis, berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya, jika suatu “pernyataan benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris, maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia. Berguna, berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya.
Adapun tujuan manusia mempunyai pengetahuan adalah:
a. Memenuhi kebutuhan untuk kelangsungan hidup
b. Mengembangkan arti kehidupan
c. Mempertahankan kehidupan dan kemanusiaan itu sendiri.
d. Mencapai tujuan hidup
Ada dua teori yang digunakan untuk mengetahui hakekat Pengetahuan:
a. Realisme, teori ini mempunyai pandangan realistis terhadap alam. Pengetahuan adalah gambaran yang sebenarnya dari apa yang ada dalam alam nyata.
b. Idealisme, teori ini menerangkan bahwa pengetahuan adalah proses-proses mental/ psikologis yang bersifat subjektif. Pengetahuan merupakan gambaran subjektif tentang sesuatu yang ada dalam alam menurut pendapat atau penglihatan orang yang mengalami dan mengetahuinya. Premis pokok adalah jiwa yang mempunyai kedudukan utama dalam alam semesta. Sebenarnya realisme dan idealisme mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu.
Ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain:
a. Empirisme, menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman (empereikos = pengalaman). Dalam hal ini harus ada 3 hal, yaitu yang mengetahui (subjek), yang diketahui (objek) dan cara mengetahui (pengalaman). Tokoh yang terkenal: John Locke (1632 –1704), George Barkeley (1685 -1753) dan David Hume.
b. Rasionalisme, aliran ini menyatakan bahwa akal (reason) merupakan dasar kepastian dan kebenaran pengetahuan, walaupun belum didukung oleh fakta empiris. Tokohnya adalah Rene Descartes (1596 –1650, Baruch Spinoza (1632 –1677) dan Gottried Leibniz (1646 –1716).
c. Intuisi. Dengan intuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui proses pernalaran tertentu. Henry Bergson menganggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi bersifat personal.
d. Wahyu adalah pengetahuan yang bersumber dari Tuhan melalui hambanya yang terpilih untuk menyampaikannya (Nabi dan Rosul). Melalui wahyu atau agama, manusia diajarkan tentang sejumlah pengetahuan baik yang terjangkau ataupun tidak terjangkau oleh manusia.
Diposkan oleh winda lestari di 19.31 Tidak ada komentar:  

Kamis, 13 November 2014

F.Manfaat belajar filsafat limu penetahuana)       Filsafat berguna untuk memuaskan keinginan tahu individu yang sifatnya sederhana (belum complicated). Aspek inilah yang membuat manusia berbeda dari binatang. Pada taraf tertentu, kera misalnya, dapat berpikir, dengan misalnya mempertimbangkan adanya tongkat yang ada didekatnya yang dapat digunakan untuk mencapai pisang yang tergantung dalam sebuah ruangan. Meskipun demikian, kera tetap tidak dapat berpikir lebih jauh dari determinasi alat atau tongkat ini. Kera tidak dapat menghubungkan pikirannya dengan pengalaman pemikiran yang telah terjadi di masa lampau, apalagi memproyeksikan pemikirannya secara visioner ke masa depan. Hanya manusia yang dapat berpikir dalam ruang dan waktu tertentu.Selain itu, di sini juga dapat dikatakan bahwa selama hidup—dari masa kanak-kanak sampai meninggal dunia—manusia harus melewati dua tahap pengenalan (kesadaran) yang penting, yakni tahap keadaan ketidaktahuan (the state of innocence) dan tahap kehilangan ketidaktahuan (the innocence lost). Keadaan ketidaktahuan pada masa kanak-kanak sebetulnya penuh dengan keinginantahu (curiosity) yang menempatkan masa kanak-kanak sebagai tahap yang penuh dengan pertanyaan. Di sini dapat disimpulkan, bahwa jika filsafat memiliki asal-muasal, maka asalnya tentulah pada masa kanak-kanak yang giat mengajukan pertanyaan tersebut. Pertanyaan dan keingintahuan anak-anak ini apabila dimatikan atau dijawab secara sangat otoritatif dan ideologis akan mematikan dan menghentikan kemampuan anak-anak untuk bertanya. Inilah yang dimaksud dengan keadaan the innocence losttersebut.b)     Filsafat dapat membantu individu untuk menemukan prinsip-prinsip yang benar yang sangat bermanfaat dalam mengarahkan hidup dan perilakunya. Di sini kita berhadapan dengan peran dari cabang filsafat yang namanya filsafat moral atau etika. Dengan bantuan pemikiran filsafat moral (etika), individu semakin mendalami hidupnya, mempertanyakan secara moral seluruh tindakannya dan menetapkan prinsip-prinsip yang baik bagi hidupnya. Dengan ini individu membebaskan diri dari kedangkalan hidup atau hidup yang hanya menuruti keinginan dari luar saja, kehidupan tanpa subjektivitas.c)       Filsafat sangat membantu individu untuk memperdalam hidupnya. Filsafat hukum misalnya, membantu manusia mengintensifkan makna dari hukum bagi masyarakat pada umumnya dan para praktisi hukum itu sendiri. Misalnya dalam memahami keterbatasan dari hukum positif dan pentingnya rasa keadilan masyarakat yang harus dihormati dan dijunjung tinggi dalam setiap keputusan hukum. Sementara itu, filsafat ilmu pengetahuan membantu individu (ilmuwan) semakin mendalami ilmunya. Tidak jarang terjadi bahwa semakin seseorang mendalami ilmunya filsafat, semakin ia mampu mengatasi disiplin keilmuannya yang empiris dan metodis dan memasuki dunia yang non-empiris, tetapi yang menarik akal budi dan menghantui batinnya. Albert Einstein misalnya, tidak hanya menjadi seorang ilmuwan (ahli fisika) murni. Ia adalah seorang ilmuwan dan filsuf. Einstein bahkan berani mengatakan: “Science without religion is lame, religion without science is blind.” Tidak hanya itu. Filsafat seni (estetika) memampukan seseorang untuk melihat segala sesuatu dalam kerangka yang sangat pribadi. Estetika memfungsikan dan memperdalam penginderaan manusia. Estetika memampukan individu untuk melihat dunia dengan mata seorang seniman, yakni melihatnya secara sangat personal.Sementara itu, dari segi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat, beberapa hal dapat dikatakan mengenai manfaat filsafat ini.a)             Prinsip-prinsip atau pemikiran filsafat membentuk organisasi sosial berdasarkan basis atau fondasi tertentu yang sifatnya permanen. Misalnya institusi-institusi sosial yang berdasarkan hukum-hukum positif tertentu yang telah disepakati bersama.b)             Filsafat sosial terdiri dari serangkaian prinsip-prinsip atau hukum-hukum yang menuntut keyakinan dan penerimaan atas kebenaran mereka. Selain itu, tentu saja juga persoalan dimensi ketaatan. Ambil saja beberapa contoh. Negara Amerika Serikat mendasarkan hidup bersama sebagai bangsa dan negara pada prinsip-prinsip American Declaration of Independence yang sangat dipengaruhi oleh gagasan dan pemikiran dua filsuf besar, yakni John Lock dan Montesquieu. Uni Soviet mendasarkannya pada filsafat dan ideologi Marxisme-Leninisme, dan Indonesia mendasarkannya pada filsafat dan ideologi Pancasila.Semua yang telah dikatakan di atas merupakan manfaat dari mempelajari filsafat secara umum. Nah, sekarang apa manfaat dari mempelajari filsafat ilmu pengetahuan? Ada paling kurang 4 manfaat yang dapat dikemukakan di sini.
1.    Bersama mata kuliah filsafat lainnya, filsafat ilmu pengetahuan membantu mahasiswa untuk semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Dengan mempelajari filsafat ilmu pengetahuan, mahasiswa menjadi sangat kritis terhadap segala pandangan, keyakinan, dan teori-teori yang dihadapinya.2.    Filsafat ilmu pengetahuan membantu mahasiswa untuk menjadi seorang ilmuwan yang andal kelak di kemudian hari. Dengan mendalami filsafat ilmu pengetahuan diharapkan mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan analisis ilmiahnya berdasarkan metode-metode ilmiah tertentu. Dalam menggeluti dan mengembangkan ilmunya, seseorang dibantu oleh pemikiran filsafat ilmu pengetahuan untuk tetap menempatkan realitas sebagai tanda tanya dan bukan tanda seru, dan untuk selalu menemukan jalan pemecahan terbaik atas masalah-masalah.3.    Pemikiran-pemikiran filsafat ilmu pengetahuan sangat membantu mahasiswa dalam pekerjaannya di kemudian hari. Bukankah setiap pekerjaan adalah upaya untuk memecahkan masalah tertentu yang kongkret? Setiap pekerjaan senantiasa bergerak dalam 3 tataran utama, yakni tataran pengetahuan dan keterampilan (keahlian), tataran pemecahan masalah, dan tataran manfaat (nilainya bagi kehidupan). Pemikiran-pemikiran filsafat ilmu pengetahuan sangat membantu dalam menjawab pertanyaan apa yang harus diketahui atau dikuasai (tataran 1), bagaimana pengetahuan atau keterampilan atau keahlian tersebut dicapai (tataran 2), dan apa manfaat (nilai) dari pemecahan masalah tersebut bagi kehidupan individu dan sosial.4.    Pemikiran filsafat ilmu pengetahuan membantu memecahkan persoalan-persoalan yang ditimbulkan modernisme, seperti masalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Masalah-masalah tersebut ternyata tidak dapat semata-mata diselesaikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan terkesan sains dan teknologi justeru dapat menghancurkan manusia itu sendiri. Filsafat banyak kali muncul dengan suara lantang, meneriakkan dihentikannya penghancuran dunia dan manusia.G. RUANG LINGKUP DAN KEDUDUKAN FILSAFATRuanglingkup dan kedudukan filsafat ilmuFilsafat ilmu adalah merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu . Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri .1. Epistemologi. Epistemology (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.Metode-metode untuk memperoleh pengetahuana. EmpirismeEmpirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.b. RasionalismeRasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
c. FenomenalismeBapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.d. IntusionismeMenurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya.e. DialektisYaitu tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melekukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan, bertolak paling kurang dua kutub.

2. Ontologi Ontology merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme.

3. Aksiologi Aksilogi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai.Pertanyaan di wilayah ini menyangkut, antara lain:a) Untuk apa pengetahuan ilmu itu digunakan?b) Bagaimana kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral?c) Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?d) Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan professional?Filsafat ilmu dikenal sebagai disiplin tersendiri pada abad ke-20 sebagai akibat profesionalisasi dan spesialisasi ilmu-ilmu alam . Berfikir secara filsafat dapat diartikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai pada hakikat, atau berpikir secara global (menyeluruh), atau berpikir dilihat dari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan. Berfikir yang demikian ini sebagai upaya untuk dapat berfikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Bahasan yang di cerna oleh ilmu filsafat sangat luas cakupannya. Poin yang utama ditujunya adalah mencari hakikat kebenaran segala sesuatu. Baik dalam kebenaran berfikir ( Logika ), kebenaran tingkah laku (Etika) Maupun dalam mencari hakikat sesuatu yang ada dibalik alam nyata (metafisika), sehingga persoalannya adalah apakah sesuatu itu hakiki (benar) atau maya (palsu).Jadi Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan yang mengkaji tentang hakikat ilmu. Dimana ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai cirri-ciri tertentu yaitu yang bersifat konkrit yang artinya masalah tersebut terdapat dalam jangkauan pengalaman manusia. Selain bersifat konkrit, ilmu juga mempunyai ciri sifat lain, yaitu bersifat nyata yang artinya jawaban itu ada pada dunia nyata dan ilmu itu dimulai dari fakta dan diakhiri dengan fakta, dan dari ciri – ciri tersebut terdapat dalam ilmu, kita bisa mengetahui fungsi dari filsafat ilmu dan arah dari filsafat ilmu.Filsafat ilmu mempelajari apakah objek yang ditelaah dalam ilmu, bagaimana proses mendapatkan ilmu dan apakah kegunaan ilmu tersebut. Objek atau hakekat sesuatu dipelajari dalam ontologi, cara mendapatkannya dipelajari dalan epistemologi, dan kegunaannya dipelajari dalam aksiologi. Dari kajian – kajian yang terdapat dalam ilmu filsafat ilmu kita bisa mengetahui kembali fungsi dari arah filsafat ilmu. Oleh karena itu fungsi filsafat ilmu adalah :1. Untuk mengetahui objek apa saja yang ditela’ah dalam ilmu2. untuk mengetahui tentang proses mendapatkan ilmu3. untuk mengethui kegunaan dari ilmu tersebut4. untuk mengetahui ciri – ciri tertentu dari cabang – cabang pengetahuan yang termasuk kedalam objek kajian dari filsafat ilmu.Sedangkan arah dari filsafat ilmu adalah mengarahkan seseorang untuk mengkaji filsafat lebih dalam tentang hakikat sesuatu itu benar atau salah , baik atau buruk, indah atau jelek. yang masing – masing sifat tersebut dapat mengarahkan seseorang ahli filsafat untuk mengetahui tentang filsafat ilmu. Filsafat yang mengkaji tentang salah – benar disebut loga, filsafat yang mengkaji tentang baik – buruk disebut etika dan filsafat yang mengkaji tentang indah – jelek disebut estetika.Ilmu merupakan suatu cara berfikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan. Berfikir bukan satu –satunya cara dalam mendapatkan pengetahuan. Demikian juga ilmu bukan satu –satunya produk dari kegiatan berfikir menurut langkah – langkah tertentu yang secara umum dapat disebut sebagai berfikir ilmiah. Berfikir ilmiah merupakan kegiatan berfikir yang memenuhi persyaratan – persyaratan tertentu. Persyaratan tersebut pada hakikatnya mencakup dua kriteria utama yakni; pertama berpikir ilmiah harus mempunyai alur jalan fikiran yang logis, yang kedua pernyataan yang bersifat logis tersebut harus didukung oleh fakta empiris. Persyaratan pertama mengharuskan alur jalan pikiran kita untuk konsisten dengan pengetahuan ilmiah yang telah ada sedangkan persyaratan kedua mengharuskan kita untuk menerima pernyataan yang didukung oleh fakta sebagai pernyataan yang benar secara ilmiah.Pernyataan yang telah diuji kebenarannya ini kemudian diperkaya khasanah pengetahuan pengetahuan ilmiah yang disusun secara sistematik dan komulatif. Kebenaran ilmiah ini tidaklah bersifat mutlak sebab mungkin saja pernyataan yang sekarang logis kemudian akan bertentangan dengan ilmu pengetahuan ilmiah baru atau pernyataan yang sekarang didukung oleh fakta kemudian di tentang oleh penemuan baru, kebenaran ilmiah terbuka bagi koreksi dan penyempurnaan.H.SEJARAH PERKEMBANGAN ILMUDalam sejarah perkembangannya sebagaimana yang terjadi di dunia Islam dengan kelahiran mu’tazilah yang mengedepankan akal (rasio) sekitar (abad 2H/8M), di dunia Eropa juga lahir gerakan Aufklarung (abad 11 H/17 M). Kedua sisi ini hendak merasionalkan agama. Mu’tazilah menolak adanya sifat-sifatTuhan dan Aufklarung menolak trinitas sebagai sifat Tuan. Alam Aufklarunginilah dalam perkembangannya telah membuat peradaban Eropa menjurus padapemujaan akal. Mereka  berpendapat bahwa antara ilmu dan agama terjadipertentangan yang keras, ilmu pengetahuan berkembang pada dunianya danagama pada dunia yang lain. Dalam persoalan ini lahirlah sikap sekuleristik dalamilmu pengetahuan.Liberalisasi, emensipasi, otonomi pribadi, dan otoritas rasio yang begitudiagungkan merupakan nilai-nilai kejiwaan yang selalu mewarnai sikap mentalmanusia Barat semenjak zaman renaissance (abad 15) dan Aufklaerung (abad ke18) yang memungkinkan mereka melakukan tinggal landas mengarungi dirgantarailmu pengetahuan yang tiada bertepi dengan hasil-hasil sebagaimana merekamiliki hingga sekarang ini.Zaman perkembangan ilmu yang paling menentukan dasar kemajuan ilmusekarang ini ialah sejak zaman sekarang ini ialah sejak abad ke 17 dengandorongan beberapa hal: pertama : untuk mengembalikan keputusan danpernyataan-pernyataan ilmiah lalu menonjolkan peranan matematik sebagai saranapenunjang pemikiran ilmiah. Dalam angka inilah mulainya menonjol peranan penggunaan angka Arab di Eropa (angka yang kita kenal di dunia sekarang)karena dinilai lebih sederhana dan praktis dari pada angka –angka Romawi.Adapun angka Arab itu sendiri dikembangkan dan berasal dari kebudayaan India.Faktor yang kedua dalam revolusi ilmu di abad ke 17, ialah makin gigihnya parailmuwan menggunakan pengamatan dan eksperimen, dalam membuktikankebenaran-kebenaran preposisi ilmu.Namun J.B.Bury menyangkal bahwa kemajuan ilmu tidak terdapat padaabad pertengahan bahkan tidak terdapat pada awal Renaissance ,tetapi baru abadke -17, sebagai hasil dari rumusan Cartesius tentang dua aksioma yaitu :1) berkuasanya akal manusia dan 2) tak berubah-ubahnya hukum alam.Perkembangan pemikiran secara teoritis senantiasa mengacu kepada peradabanYunani .Oleh karena itu periodesasi perkembangan ilmu disusun mulai dariperadaban Yunani kemudian diakhiri pada penemuan-penemuan pada zamankontemporer. Secara singkat periodesasi perkembangan ilmu dapat digambarkansebagai berikut :A.Pra Yunani Kuno (abad 15-7 SM)Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia. Yakni ketika belummengenal peralatan seperti yang dipakai sekarang ini. Pada masa itu manusiamasih menggunakan batu sebagai peralatan. Masa zaman batu berkisar antara4 juta tahun sampai 20.000 tahun sebelum masehi. Sisa peradaban manusiayang ditemukan pada masa ini antara lain: alat-alat dari batu, tulang belulangdari hewan, sisa beberapa tanaman, gambar-gambar digua-gua, tempat-tempatpenguburan, tulang belulang manusia purba. Evolusi ilmu pengetahuan dapat diruntut melalui sejarah perkembangan pemikiran yang terjadi di Yunani,Babilonia, Mesir, China, Timur Tengah dan Eropa.B.Zaman Yunani kuno (abad-7-2 SM)Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karenapada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengeluarkan ide-ide ataupendapatnya, Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudangnya ilmu danfilsafat, karena Yunani pada masa itu tidak mempercayai mitologi-mitologi.Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman-pengalaman yangdidasarkan pada sikap menerima saja (receptive attitude) tetapi menumbuhkananquiring attitude (senang menyelidiki secara kritis).Sikap inilah yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli-ahlipikir yang terkenal sepanjang masa. Beberapa tokoh yang terkenal pada masaini antara lain : Thales, Demokrates dan Aristoteles. C.Zaman Pertengahan (Abad 2- 14 SM)Zaman pertengahan (middle age) ditandai dengan para tampilnyatheolog di lapangan ilmu pengetahuan. Ilmuwan pada masa ini adalah hampirsemuanya para theolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitaskeagamaan. Atau dengan kata lain kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Semboyan pada masa ini adalah AnchilaTheologia (abdi agama). Peradaban dunia Islam terutama abad 7 yaitu Zamanbani Umayah telah menemukan suatu cara pengamatan stronomi, 8 abadsebelum Galileo Galilie dan Copernicus. Sedangkan peradaban Islam yangmenaklukan Persia pada abad 8 Masehi, telah mendirikan Sekolah kedokteran dan Astronomi di Jundishapur. Pada masa keemasan kebudayaan Islam,dilakukan penerjemahan berbagai karya Yunani. Dan bahkan khalifahAl_Makmun telah mendirikan rumah Kebijaksanaan (House of Wisdom) /  Baitul Hikmah pada abad 9. Pada abad ini Eropa mengalami zaman kegelapan(dark age).D.Masa Renaissance (14-17 M)Renaisance merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan danperubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman yang menyaksikan dilancarkannya tantangan gerakan reformasi terhadap keesaandan supremasi gereja katolik Roma,bersamaan dengan berkembangnyahumanisme. Zaman ini juga merupakan penyempurnaan kesenian, keahlian,dan ilmu yang diwujudkan dalam diri jenius serba bisa, Leonardo Da Vinci.Penemuan percetakan (kira-kira 1440 M) oleh kolumbus memberikandorongan lebih keras untuk meraih kemajuan ilmu. Kelahiran kembali sastradi Inggris, Prancis, dan Spayol diwakili Shakespeare, Spencer, Rabelais, danRonsard. Pada masa itu, seni musik juga mengalami perkembagan. Adanyapenemuan para ahli perbintangan seperti Copernicus dan Galileo menjadidasar munculnya astronomi modern yang merupakan titik balik dalampemikiran ilmu dan filsafat. Tidaklah mudah membuat garis batas yang tegas antara zamanRenaisance dengan zaman modern. Sementara orang menganggap bahwazaman modernhanyalah perluasan Renaisance. Akan tetapi, pemikiran ilmiah membawa manusia lebih maju kedepan dengan kecepatan yang besar, berkatkemampuan-kemampuan yang dihasilkan oleh masa-masa sebelumnya.Manusia maju dengan langkah raksasa dari zaman uap ke zaman listrik,kemudian ke zaman atom, elektron, radio, televisi, roket dan zaman ruangangkasa.E. Perkembangan Filsafat Zaman Modern (17-19 M)Zaman ini ditandai dengan berbagai dalam bidang ilmiah, serta filsafatdari berbagai aliran muncul. Pada dasarnya corak secara keseluruhan bercorak sufisme Yunani. Paham – paham yang muncul dalam garis besarnya adalahRasionalisme, Idialisme, dengan Empirisme. Paham Rasionalismemengajarkan bahwa akal itulah alat terpenting dalam memperoleh danmenguji pengetahuan. Ada tiga tokoh penting pendukung rasionalisme ini,yaitu Descartes, Spinoza, dan Leibniz.  Sedangkan aliran Idialisme mengajarkan hakekat fisik adalah jiwa,spirit. Ide ini merupakan ide Plato yang memberikan jalan untuk memperlajaripaham idealisme zaman modern. Para pengikut aliran/paham ini padaumumnya, sumber filsafatnya mengikuti filsafat kritisisismenya ImmanuelKant. Fitche (1762-1814) yang dijuluki sebagai penganut Idealisme subyektif merupakan murid Kant. Sedangkan Scelling, filsafatnya dikenal denganfilsafat Idealisme Objektif .Kedua Idealisme ini kemudian disintesakan dalamFilsafat Idealisme Mutlak Hegel.Pada Paham Empirisme mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu dalampikiran kita selain didahului oleh pengalaman. ini bertolak belakang denganpaham rasionalisme. Mereka menentang para penganut rasionalisme yangberdasarkan atas kepastian-kepastian yang bersifat apriori. Pelopor aliran iniadalah Thomas Hobes Jonh locke,dan David Hume.F.Zaman KontemporerYang dimaksud dengan zaman kontemporer adalah dalam kontek iniadalah era tahun-tahun terakhir yang kita jalani hingga saat sekarang. Halyang membedakan pengamatan tentang ilmu pada zaman sekarang adalahbahwa zaman modern adalah era perkembangan ilmu yang berawal sejak sekitar abad ke-15, sedangkan kontemporer memfokuskan sorotannya padaberbagai perkembangan terakhir yang terjadi hingga saat sekarang. Beberapacontoh perkembangan ilmu kontemporer adalah : Santri, Priyayi, danAbangan. Lebih lanjut Semenjak tahun 1960 filsafat ilmu mengalamiperkembangan yang sangat pesat, terutama sejalan dengan pesatnyaperkembangan ilmu dan teknologi yang ditopang penuh oleh positivisme-empirik, melalui penelaahan dan pengukuran kuantitatif sebagai andalanutamanya. Berbagai penemuan teori dan penggalian ilmu berlangsung secaramengesankan.Pada periode ini berbagai kejadian dan peristiwa yang sebelumnyamungkin dianggap sesuatu yang mustahil, namun berkat kemajuan ilmu danteknologi dapat berubah menjadi suatu kenyataan. Bagaimana pada waktu ituorang dibuat tercengang dan terkagum-kagum, ketika Neil Amstrong benar-benar menjadi manusia pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan.Begitu juga ketika manusia berhasil mengembangkan teori rekayasa genetikadengan melakukan percobaan cloning pada kambing, atau mengembangkancyber technology, yang memungkinkan manusia untuk menjelajah duniamelalui internet. Semua keberhasilan ini kiranya semakin memperkokohkeyakinan manusia terhadap kebesaran ilmu dan teknologi. Memang, tidak dipungkiri lagi bahwa positivisme-empirik yang serba matematik, fisikal,reduktif dan free of value telah membuktikan kehebatan dan memperolehkejayaannya, serta memberikan kontribusi yang besar dalam membangunperadaban manusia seperti sekarang ini.Namun, dibalik keberhasilan itu, ternyata telah memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak sederhana, dalam bentuk kekacauan, krisis danchaos yang hampir terjadi di setiap belahan dunia ini. Alam menjadi marahdan tidak ramah lagi terhadap manusia, karena manusia telah memperlakukandan mengexploitasinya tanpa memperhatikan keseimbangan dankelestariannya. Berbagai gejolak sosial hampir terjadi di mana-mana sebagaiakibat dari benturan budaya yang tak terkendali.Kesuksesan manusia dalam menciptakan teknologi-teknologi raksasaternyata telah menjadi bumerang bagi kehidupan manusia itu sendiri. Raksasa-raksasa teknologi yang diciptakan manusia itu seakan-akan berbalik untuk menghantam dan menerkam si penciptanya sendiri, yaitu manusia.Berbagai persoalan baru sebagai dampak dari kemajuan ilmu danteknologi yang dikembangkan oleh kaum positivisme-empirik, telah memunculkan berbagai kritik di kalangan ilmuwan tertentu. Kritik yang sangat tajam muncul dari kalangan penganut “Teori Kritik Masyarakat”,Kritik terhadap positivisme, kurang lebih bertali temali dengan kritik terhadapdeterminisme ekonomi, karena sebagian atau keseluruhan bangunandeterminisme ekonomi dipancangkan dari teori pengetahuan positivistik.Positivisme juga diserang oleh aliran kritik dari berbagai latar belakang dandidakwa berkecenderungan meretifikasi dunia sosial. Selain itu Positivismedipandang menghilangkan pandangan aktor, yang direduksi sebatas entitas  pasif yang sudah ditentukan oleh “kekuatan-kekuatan natural”. Pandangan teoritikus kritik dengan kekhususan aktor, di mana mereka menolak ide bahwaaturan aturan umum ilmu dapat diterapkan tanpa mempertanyakan tindakan manusia. Akhirnya “ Teori Kritik Masyarakat” menganggap bahwa positivisme dengan sendirinya konservatif, yang tidak kuasa menantangsistem yang eksis.Senada dengan pemikiran di atas, Nasution (1996:4) mengemukan pulatentang kritik post-positivime terhadap pandangan positivisme yang bercirikanfree of value, fisikal, reduktif dan matematika.Aliran post-positivime tidak menerima adanya hanya satu kebenaran,. Rich (1979) mengemukakan “There is no the truth nor a truth – truth is notone thing, -or even a system. It is an increasing completely” Pengalaman manusia begitu kompleks sehingga tidak mungkin untuk diikat oleh sebuahteori. Freire (1973) mengemukakan bahwa tidak ada pendidikan netral, maka tidak ada pula penelitian yang netral. Usaha untuk menghasilkan ilmu sosial yang bebas nilai makin ditinggalkan karena tak mungkin tercapai dan karena itu bersifat “self deceptive” atau penipuan diri dan digantikan oleh ilmu sosial yang berdasarkan ideologi tertentu. Hesse (1980) mengemukakan bahwa kenetralandalam penelitian sosial selalu merupakan problema dan hanya merupakansuatu ilusi. Dalam penelitian sosial tidak ada apa yang disebut “obyektivitas”.“ Knowledge is a’socially contitued’, historically embeded, and valuationally. Namun ini tidak berarti bahwa hasil penelitian bersifat subyektif semata-mata, oleh sebab penelitian harus selalu dapat dipertanggung- jawabkan secara empirik, sehingga dapat dipercaya dan diandalkan.
I.LANDASAN PENELAHAAN ILMULandasan Penelaahan IlmuLandasan pokok dalam penelaahan ilmu bertumpu pada tiga cabang filsafat, yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Landasan ontologi berkaitan dengan pemahaman seseorang tentang kenyataan, landasan epistemologi memberikan pemahaman tentang sumber dan sarana pengetahuan manusia sedangkan landasan aksiologi yang memberikan suatu pemahaman tentang nilai hubungan kualitas obyek dengan subyek (ilmuan) .1. Landasan OntologiOntologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut . Secara ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistimologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah .Disamping itu, secara ontologi ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakikat realitas, sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk mempelajari alam sebagaimana adanya. Sebagaimana kita mendefinisikan manusia, maka berbagai pengertianpun akan muncul.Contoh: ada pertanyaan, Siapakah manusia itu? Jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi sedang ilmu politik menjawab manusia adalah mahluk politikal.2. Landasan EpistimologiEpistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistimologi mempertanyakan bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Apa kriterianya? Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yan berupa ilmu? .Landasan epistimologi ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan:a. Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.b. Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut.c. Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual .Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan terhadap fenomena alam. Verifikasi secara empiris berarti evaluasi secara obyektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini berarti bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung dalam hipotesis. Demikian juga verifikasi faktual membuka diri terhadap kritik kerangka pemikiran yang mendasari pengajuan hipotesis. Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan cara berpikir kritis . Karena ilmu merupakan sikap hidup untuk mencari suatu kebanaran dan mencintai kebenaran sesuai dengan kaitan moral.3. Landasan AksiologiAksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang merupakan operasional? .Pada dasarnya ilmu harus dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat, martabat manusia dan kelestarian atau keseimbangan alam .Untuk kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komural dan universal. Komural berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, semua orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti ilmu tidak memiliki konotasi ras, ideologi atau agama.Sebagaimana contoh seorang kepala desa mempelajari ilmu manajemen desa secara detail, mulai dari wilayah desa, mata pencaharian penduduk sampai dengan kehidupan sehari-hari para penduduk sekitar. Dengan landasan aksiologi mempertanyakan nilai apa yang terdapat didalam ilmu manajemen desa tersebut, sehingga terjawablah pertanyaan nilai tersebut dengan gambaran keberhasilan kepala desa untuk memajukan desanya dalam bidang kesejahteraan penduduk desa dan kelestarian wilayah desa.
D. Keterkaitan Landasan Ontologi, Epistimologi dan aksiologiIlmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistimologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan antar satu dengan lainnya.
E. Manfaat Landasan Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi dalam Penelaahan IlmuUntuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dengan pengetahuan lainnya maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah: apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (Ontologi)? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu (Epistimologi)? Serta untuk apa pengetahuan termaksud dipergunakan (Aksiologi)? Dengan mengetahui ketiga jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam hasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan kita untuk mengenali berbagai pengetahuan yang ada, seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita tidak dapat memanfaatkan keguanaannya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya, seperti ilmu dikacaukan dengan seni, ilmu dikonfigurasikan dengan agama.
J. SARANA BERFIKIR ILMIAH1. Definisi Sarana Berpikir IlmiahBerpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan.